Selain Pesantren, Sekolah Islam juga Punya Potensi Ekonomi Syariah
Muhajirin
Jum'at, 26 November 2021 - 09:48 WIB
SMK Muhammadiyah 2 Pekanbaru, salah satu sekolah yang mempunyai model pengembangan ekonomi syariah (foto: istimewa)
Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) , KH Anwar Abbas, menilai selain pesantren, sekolah Islam juga memiliki potensi besar untuk memajukan ekonomi syariah secara nasional.
“Banyak sekolah-sekolah Islam lainnya yang non pesantren seperti SD, SMP, dan SMA serta SMK Islam yang juga harus kita bina dan kembangkan,” kata Anwar Abbas melalui keterangan tertulis, Kamis (25/11/2021).
Dia mencontohkan SMK Muhammadiyah 2 Pekanbaru yang serius fokus pada pendidikan kewirausahaan, yakni ekonomi dan bisnis digital. Banyak produk dari sekolah tersebut telah menembus pasar lokal.
“Minimal penjualan mereka sehari sekitar Rp4 juta dan yang mengelolanya adalah murid-murid didampingi oleh guru kewirausahaannya,” ucap Anwar Abbas.
Para siswa menjalankan tugas tersebut dengan senang hati. Jadi, kata dia, para peserta didik tidak hanya mendapat pelajaran tentang ekonomi dan bisnis. Mereka juga mendapatkan pengalaman langsung mengelola serta menjalankan bisnis.
Di sisi lain, para siswa SMK Muhammadiyah 2 Pekanbaru itu juga memiliki minimarket sendiri. Sehingga, mereka juga belajar memberikan pelayanan terbaik kepada pembeli, baik dari kalangan murid, guru, karyawan, maupun masyarakat sekitar.
Menurut Anwar Abbas, jika sistem itu dikembangkan ke sekolah-sekolah Islam lain, maka bisa mendorong pertumbuhan dan perkembangan ekonomi syariah di Tanah Air. Maka itu, dia berharap pemerintah tidak hanya bersinergi dengan pesantren dalam mengembangkan ekonomi syariah. Sebab, jumlah sekolah Islam di Indonesia juga sangat banyak.
“Banyak sekolah-sekolah Islam lainnya yang non pesantren seperti SD, SMP, dan SMA serta SMK Islam yang juga harus kita bina dan kembangkan,” kata Anwar Abbas melalui keterangan tertulis, Kamis (25/11/2021).
Dia mencontohkan SMK Muhammadiyah 2 Pekanbaru yang serius fokus pada pendidikan kewirausahaan, yakni ekonomi dan bisnis digital. Banyak produk dari sekolah tersebut telah menembus pasar lokal.
“Minimal penjualan mereka sehari sekitar Rp4 juta dan yang mengelolanya adalah murid-murid didampingi oleh guru kewirausahaannya,” ucap Anwar Abbas.
Para siswa menjalankan tugas tersebut dengan senang hati. Jadi, kata dia, para peserta didik tidak hanya mendapat pelajaran tentang ekonomi dan bisnis. Mereka juga mendapatkan pengalaman langsung mengelola serta menjalankan bisnis.
Di sisi lain, para siswa SMK Muhammadiyah 2 Pekanbaru itu juga memiliki minimarket sendiri. Sehingga, mereka juga belajar memberikan pelayanan terbaik kepada pembeli, baik dari kalangan murid, guru, karyawan, maupun masyarakat sekitar.
Menurut Anwar Abbas, jika sistem itu dikembangkan ke sekolah-sekolah Islam lain, maka bisa mendorong pertumbuhan dan perkembangan ekonomi syariah di Tanah Air. Maka itu, dia berharap pemerintah tidak hanya bersinergi dengan pesantren dalam mengembangkan ekonomi syariah. Sebab, jumlah sekolah Islam di Indonesia juga sangat banyak.