Umat Islam juga Bisa Menjelajah ke Luar Angkasa, Inilah 9 Astronot Muslim
Muhajirin
Rabu, 01 Desember 2021 - 20:39 WIB
Para astronot muslim penjelajah luar angkasa (foto: istimewa)
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memungkinkan manusia melakukan perjalanan ke luar angkasa. Ratusan astronot telah menjelajahi luar angkasa sejak 1961. Setidaknya Sembilan dari mereka adalah muslim.
Astronot muslim pertama yang menghadapi tantangan ini adalah Sultan bin Salman bin Abdulaziz Al-Saud, seorang pilot pesawat tempur sekaligus pangeran Arab Saudi. Pada 1985, ia merupakan Spesialis Payload untuk misi STS-51G National Aeronautics and Space Administration (NASA) AS.
Ia mengangkasa menggunakan pesawat ulang-alik Discovery untuk meluncurkan tiga satelit. Sultan memilih tidak berpuasa Ramadhan saat sedang berlatih dan di luar angkasa. Kendati begitu, ia membawa mushaf Al-Qur’an kecil. Saat shalat, dia mengikat kaki ke lantai pesawat untuk melakukan gerakan sujud dengan mengeluarkan kemampuan terbaik.
Ada pula astronot muslim pertama dari Uni Soviet, Anousheh Ansari, yang mengangkasa. Ia mengaku mendapat tantangan serupa ketika sudah berada di luar angkasa. Dia berkeyakinan iman dan sains saling melengkapi, sehingga bisa tetap fokus melakukan misi ilmiah.
Lalu ada Sheikh Muszaphar Shukor, astronot muslim asal Malaysia yang mengangkasa pada 2007. Nama Shukor menjadi perbincangan lantara membagikan sebuah video yang memperlihatkan ketika ia sedang shalat.
Sebelum lepas landas, Badan Antariksa Malaysia (ANGKASA) mengundang 150 cendekiawan muslim, ilmuwan, dan astronot untuk membuat pedoman bagi Shukor. Para ulama mengeluarkan fatwa yang dimaksudkan untuk membantu astronot muslim di masa depan.
Fatwa yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab itu menyebutkan, umat Islam di luar angkasa harus menghadap Mekah jika memungkinkan, tapi jika tidak, mereka bisa menghadap bumi secara umum, atau hanya menghadap ‘ke manapun’.
Astronot muslim pertama yang menghadapi tantangan ini adalah Sultan bin Salman bin Abdulaziz Al-Saud, seorang pilot pesawat tempur sekaligus pangeran Arab Saudi. Pada 1985, ia merupakan Spesialis Payload untuk misi STS-51G National Aeronautics and Space Administration (NASA) AS.
Ia mengangkasa menggunakan pesawat ulang-alik Discovery untuk meluncurkan tiga satelit. Sultan memilih tidak berpuasa Ramadhan saat sedang berlatih dan di luar angkasa. Kendati begitu, ia membawa mushaf Al-Qur’an kecil. Saat shalat, dia mengikat kaki ke lantai pesawat untuk melakukan gerakan sujud dengan mengeluarkan kemampuan terbaik.
Ada pula astronot muslim pertama dari Uni Soviet, Anousheh Ansari, yang mengangkasa. Ia mengaku mendapat tantangan serupa ketika sudah berada di luar angkasa. Dia berkeyakinan iman dan sains saling melengkapi, sehingga bisa tetap fokus melakukan misi ilmiah.
Lalu ada Sheikh Muszaphar Shukor, astronot muslim asal Malaysia yang mengangkasa pada 2007. Nama Shukor menjadi perbincangan lantara membagikan sebuah video yang memperlihatkan ketika ia sedang shalat.
Sebelum lepas landas, Badan Antariksa Malaysia (ANGKASA) mengundang 150 cendekiawan muslim, ilmuwan, dan astronot untuk membuat pedoman bagi Shukor. Para ulama mengeluarkan fatwa yang dimaksudkan untuk membantu astronot muslim di masa depan.
Fatwa yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab itu menyebutkan, umat Islam di luar angkasa harus menghadap Mekah jika memungkinkan, tapi jika tidak, mereka bisa menghadap bumi secara umum, atau hanya menghadap ‘ke manapun’.