LANGIT7.ID - Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memungkinkan manusia melakukan perjalanan ke luar angkasa. Ratusan astronot telah menjelajahi luar angkasa sejak 1961. Setidaknya Sembilan dari mereka adalah muslim.
Astronot muslim pertama yang menghadapi tantangan ini adalah Sultan bin Salman bin Abdulaziz Al-Saud, seorang pilot pesawat tempur sekaligus pangeran Arab Saudi. Pada 1985, ia merupakan Spesialis Payload untuk misi STS-51G National Aeronautics and Space Administration (NASA) AS.
Ia mengangkasa menggunakan pesawat ulang-alik Discovery untuk meluncurkan tiga satelit. Sultan memilih tidak berpuasa Ramadhan saat sedang berlatih dan di luar angkasa. Kendati begitu, ia membawa mushaf Al-Qur’an kecil. Saat shalat, dia mengikat kaki ke lantai pesawat untuk melakukan gerakan sujud dengan mengeluarkan kemampuan terbaik.
Ada pula astronot muslim pertama dari Uni Soviet, Anousheh Ansari, yang mengangkasa. Ia mengaku mendapat tantangan serupa ketika sudah berada di luar angkasa. Dia berkeyakinan iman dan sains saling melengkapi, sehingga bisa tetap fokus melakukan misi ilmiah.
Lalu ada Sheikh Muszaphar Shukor, astronot muslim asal Malaysia yang mengangkasa pada 2007. Nama Shukor menjadi perbincangan lantara membagikan sebuah video yang memperlihatkan ketika ia sedang shalat.
Sebelum lepas landas, Badan Antariksa Malaysia (ANGKASA) mengundang 150 cendekiawan muslim, ilmuwan, dan astronot untuk membuat pedoman bagi Shukor. Para ulama mengeluarkan fatwa yang dimaksudkan untuk membantu astronot muslim di masa depan.
Fatwa yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab itu menyebutkan, umat Islam di luar angkasa harus menghadap Mekah jika memungkinkan, tapi jika tidak, mereka bisa menghadap bumi secara umum, atau hanya menghadap ‘ke manapun’.
Selain tiga nama di atas, di antara astronot muslim yang melakukan perjalanan luar angkasa adalah Mohammed Faris astronot muslim dari Suriah pada 22 Juli 1987. Ada Musa Manarov dari Uni Soviet pada 1987 dan 1990. Abdul Ahad Mohammad dari Afghanistan pada 1988. Toktar Aubakirov dari Uni Soviet pada 1991.
Ada pula Talgat Musabayev dari Rusia pada 1998 dan 2001. Salizhan Sharipov dari Rusia pada 1998 dan 2004. Aidyn Aimbetov dari Kazakhstan pada 2015, dan Hazza Almansoori dari Uni Emirat Arab pada September 2019.
Tantangan Muslim di Luar AngkasaPerjalanan ruang angkasa dapat melahirkan beberapa tantangan bagi umat Islam. Terutama tantangan yang berkaitan dengan ibadah ritual seorang muslim, seperti shalat. Shalat diwajibkan menghadap kiblat. Tentu hal itu memiliki rintangan ketika berada di luar angkasa karena bersinggungan dengan orbit benda langit.
Ketika berada di luar angkasa, bumi mengorbit dengan kecepatan 17.400 mil per jam. Itu membuat letak ka'bah bergerak cepat di bawah pesawat ruang angkasa. Muslim wajib shalat lima kali sehari, namun saat berada di ruang angkasa matahari terbit dan terbenam setiap 90 menit.
Tentu kondisi itu membuat astronot muslim memerlukan fatwa baru dari para ulama mengenai tata cara shalat ketika berada di ruang angkasa. Di sisi lain, gravitasi yang kurang saat mengangkasa membuat para astronot sulit untuk melakukan gerakan shalat, seperti sujud, rukuk, hingga duduk.
Situasi itu menjadi rumit saat ibadah puasa pada bulan ramadhan. Penentuan waktu sahur dan buka puasa, demikian pula perhitungan hari memerlukan fatwa baru.
(jqf)