Teman Tuli Juga Berhak Pelajari Al-Qur’an, Muslimah Ini Temukan Metode Pengajarannya
Muhajirin
Jum'at, 03 Desember 2021 - 09:32 WIB
Riska Duduti temukan metode pengajaran Al-Quran untuk teman tuli (Dok Kemenag)
Al-Qur’an adalah firman Allah dengan kandungan makna yang sangat dalam. Hanya saja, tidak semua umat Islam mampu mendengarkan keindahan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka adalah para penyandang disabilitas tuli. Namun ternyata mereka dapat menikmati bacaan setiap ayat Al-Qur’an melalui orang lain.
Hal tersebut dilakukan Penyuluh Agama Islam (PAI) Kanwil Kemenag Gorontalo, Riska Duduti. Ia merasa terharu saat menyaksikan anak bimbingannya yang memiliki disabilitas tuli di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kabupaten Gorontalo.
Suatu ketika seorang ibu-ibu bercerita kepada Riska perihal anaknya yang tuli. Rumah ibu itu di dekat masjid. Setiap sore, sang anak hanya bisa menyaksikan anak-anak lain berjalan memegang Al-Qur’an untuk belajar mengaji.
“Orang tua itu hanya dapat membatin, ‘Ya Allah, kapan anak saya bisa seperti mereka? Cuma anak saya yang tidak bisa seperti mereka’. Ibu ini bercerita ke saya sambil menangis,” kata Riska, dikutip laman resmi Kemenag, Jum'at (3/12/2021).
Riska pun tergerak untuk mulai memperdengarkan keindahan Al-Qur’an kepada anak-anak tuli. Ia berprinsip, sebagai hamba Allah dan umat Nabi Muhammad memiliki hak sama untuk belajar. Tidak ada perbedaan antara anak tuli dengan anak normal. Semua anak memiliki hak untuk mendapatkan hidup yang layak.
Perjalanan Riska itu sejalan dengan program penyuluh agama Islam untuk memperhatikan dan memberikan bimbingan di SLB. Mereka memberikan tausiah. “Saya melihat ada yang berbeda. Hanya sebatas inikah yang diketahui anak-anak? Padahal, mereka sama dengan kita yang bisa mendengar,” kata Riska.
Baca Juga:Stop Audism, Begini Etika Saat Berinteraksi dengan Kaum Tuli
Hal tersebut dilakukan Penyuluh Agama Islam (PAI) Kanwil Kemenag Gorontalo, Riska Duduti. Ia merasa terharu saat menyaksikan anak bimbingannya yang memiliki disabilitas tuli di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kabupaten Gorontalo.
Suatu ketika seorang ibu-ibu bercerita kepada Riska perihal anaknya yang tuli. Rumah ibu itu di dekat masjid. Setiap sore, sang anak hanya bisa menyaksikan anak-anak lain berjalan memegang Al-Qur’an untuk belajar mengaji.
“Orang tua itu hanya dapat membatin, ‘Ya Allah, kapan anak saya bisa seperti mereka? Cuma anak saya yang tidak bisa seperti mereka’. Ibu ini bercerita ke saya sambil menangis,” kata Riska, dikutip laman resmi Kemenag, Jum'at (3/12/2021).
Riska pun tergerak untuk mulai memperdengarkan keindahan Al-Qur’an kepada anak-anak tuli. Ia berprinsip, sebagai hamba Allah dan umat Nabi Muhammad memiliki hak sama untuk belajar. Tidak ada perbedaan antara anak tuli dengan anak normal. Semua anak memiliki hak untuk mendapatkan hidup yang layak.
Perjalanan Riska itu sejalan dengan program penyuluh agama Islam untuk memperhatikan dan memberikan bimbingan di SLB. Mereka memberikan tausiah. “Saya melihat ada yang berbeda. Hanya sebatas inikah yang diketahui anak-anak? Padahal, mereka sama dengan kita yang bisa mendengar,” kata Riska.
Baca Juga:Stop Audism, Begini Etika Saat Berinteraksi dengan Kaum Tuli