Tips Gus Mus untuk Dai di Era Digital: Bedakan Dakwah dan Amar Ma'ruf Nahi Munkar
Muhajirin
Selasa, 07 Desember 2021 - 16:55 WIB
KH Ahmad Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus (foto: antara)
KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) membeberkan solusi kepada para dai dalam berdakwah di era digital. Dia merujuk dalam surah An-Nahl ayat 125. Dalam surah tersebut, Allah Ta’ala berfirman:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
Menafsirkan ayat tersebut, Gus Mus menyebut ada kata ud’u (serulah) yang dimaknai sebagai dakwah. Menurutnya, kadang seseorang tidak bisa membedakan antara dakwah dengan amar ma’ruf nahi munkar. Dakwah itu mengajak. Mengajak artinya ada nuansa membujuk dan keharusan. Sementara amar ma’ruf nahi munkar merupakan bahasa perintah.
Baca Juga: Era Baru, Pendakwah Harus Cekatan Manfaatkan Media Digital
Dalam ayat itu juga disebutkan ud’u ila sabili rabbika. Kalimat tersebut menjelaskan orang yang diajak adalah mereka yang tidak berada di jalan Tuhan untuk kembali kepada-Nya. Lalu kata hikmah. Dalam kitab-kitab tafsir, kebanyak al-hikmah dimaknai sebagai Al-Qur’an atau sunnah. Belakangan hikmah diartikan sebagai bijaksana.
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
Menafsirkan ayat tersebut, Gus Mus menyebut ada kata ud’u (serulah) yang dimaknai sebagai dakwah. Menurutnya, kadang seseorang tidak bisa membedakan antara dakwah dengan amar ma’ruf nahi munkar. Dakwah itu mengajak. Mengajak artinya ada nuansa membujuk dan keharusan. Sementara amar ma’ruf nahi munkar merupakan bahasa perintah.
Baca Juga: Era Baru, Pendakwah Harus Cekatan Manfaatkan Media Digital
Dalam ayat itu juga disebutkan ud’u ila sabili rabbika. Kalimat tersebut menjelaskan orang yang diajak adalah mereka yang tidak berada di jalan Tuhan untuk kembali kepada-Nya. Lalu kata hikmah. Dalam kitab-kitab tafsir, kebanyak al-hikmah dimaknai sebagai Al-Qur’an atau sunnah. Belakangan hikmah diartikan sebagai bijaksana.