Fenomena dakwah digital mengubah otoritas keagamaan di Indonesia. Dominasi generasi muda di media sosial melahirkan dai zaman now dan ulama digital yang tampil adaptif, populer, dan performatif. Bagaimana pergeseran otoritas agama terjadi di era teknologi dan media baru?
Masjid Istiqlal, Jakarta baru saja meluncurkan Istiqlalverse, sebuah masjid virtual yang ada di metaverse bertepatan dengan perayaan puncak Milad ke-45.
Kemudahan akses teknologi informasi membuat kegiatan penyebaran pesan dakwah dapat lebih mudah dilakukan, terutama dalam hal koordinasi majelis taklim di daerah.
Dia menegaskan bahwa tugas para dai kedepannnya yakni berdakwah dengan ilmu agama yang kompeten sesuai dengan syariat agama berlandasan Al-Qur'an dan Hadis.
Dia menuturkan bahwa Sang Khalik sangat suka untuk dimintai pertolongan hamba-Nya. Karena pada dasarnya, Allah menciptakan makhluk tidak lain untuk menyembah-Nya.
Pendakwah muda ini menuturkan pentingnya optimalisasi media sosial dalam langkah berdakwah. Seperti pemilihan kata yang tepat dengan interpretasi yang mudah dicerna oleh para pembaca, terutama bagi kaum awam.
Pesatnya perkembangan zaman, terang UBN, tidak dapat dipungkiri dan wajib dimaksimalkan dengan hal-hal positif sehingga dapat menjadi wasilah menuju pintu surga.
Ketua Panitia JIC Youth Islamic Digital Fest, Ade Suhandi menuturkan, tema yang diusung bertujuan untuk membentuk generasi Muslim yang cakap ilmu dan terampil dalam digitalisasi.
UBN mengajak generasi muda memanfaatkan dan menguasai teknologi untuk kepentingan dakwah Islam. Misalnya memanfaatkan media sosial atau smartphone untuk berdakwah.
Menurut dia, hal tersebut merupakan hak setiap orang untuk memiliki persepsi. Serta juga tidak ada yang bisa menghalangi ataupun membatasi mereka untuk mempengaruhi persepsi dan opini publik di ruang digital.
Seni merupakan bahasa universal yang bisa digunakan lintas agama, lintas budaya, dan lintas etnis. Semua orang suka dan cinta terhadap seni meski dengan tingkat sensitivitas dan naluri yang berbeda.