LANGIT7.ID - KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) membeberkan solusi kepada para dai dalam berdakwah di era digital. Dia merujuk dalam surah An-Nahl ayat 125. Dalam surah tersebut, Allah Ta’ala berfirman:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
Menafsirkan ayat tersebut, Gus Mus menyebut ada kata ud’u (serulah) yang dimaknai sebagai dakwah. Menurutnya, kadang seseorang tidak bisa membedakan antara dakwah dengan amar ma’ruf nahi munkar. Dakwah itu mengajak. Mengajak artinya ada nuansa membujuk dan keharusan. Sementara amar ma’ruf nahi munkar merupakan bahasa perintah.
Baca Juga: Era Baru, Pendakwah Harus Cekatan Manfaatkan Media Digital
Dalam ayat itu juga disebutkan
ud’u ila sabili rabbika. Kalimat tersebut menjelaskan orang yang diajak adalah mereka yang tidak berada di jalan Tuhan untuk kembali kepada-Nya. Lalu kata hikmah. Dalam kitab-kitab tafsir, kebanyak al-hikmah dimaknai sebagai Al-Qur’an atau sunnah. Belakangan hikmah diartikan sebagai bijaksana.
“Artinya, ketika seseorang mengajak orang dengan Al-Quran itu artinya bijaksana. Sekarang, bagaimana mengajak ke sabili rabbika kepada masyarakat di era digital?” kata Gus Mus melalui kanal youtube cariustadz.id, dikutip Selasa (7/12/2021).
Era digital menjadi salah satu cobaan nyata bagi pendakwah saat ini. Mayoritas orang yang ahli digital adalah mereka yang tidak paham sabili rabbik. Sementara pendakwah tidak paham digital. Maka Gus Mus mengaku sangat respek dengan pendakwah yang menguasai kecakapan digital.
“Tapi kalau tidak memahami digital, itu akan kalah, dengan mereka yang asal bicara atau tidak bersanad tapi paham digital. Sehingga, orang milenial ini tertarik kepada mereka,” kata Gus Mus.
Di pesantren, meski para kiai tidak mengerti dunia digital, tapi mereka punya santri yang memiliki kemampuan itu. Para santri aktif membuat konten media sosial untuk sang kiai, sehingga masalah ini bisa teratasi.
“Jadi, kalau tidak bisa, setidaknya punya orang yang bisa ahli digital. Kita punya pilihan dua, kita sendiri memahami digital dengan baik, atau kita punya santri-santri yang bisa mengangkat dakwah kita,” kata Gus Mus.
(jqf)