Haedar Nashir: Walau Ada Orang Berbeda, Kita Ambil Gampangnya Saja
Muhajirin
Selasa, 20 Juli 2021 - 05:30 WIB
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir. Foto: Muhammadiyah.or.id
Para ilmuwan dikenal sebagai kelompok yang memiliki standar ketat dalam memutuskan satu masalah atau perkara. Untuk menyepakati satu hal tertentu, mereka memakai kesepakatan yang kebenarannya berlaku secara universal di semua tempat. Dalam Islam disebut sebagai ijtihad jama’i.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, anggapan satu atau dua ilmuwan yang menyelisihi kebenaran universal tersebut tidak bisa membatalkan kebenaran ijtihad jama’i. Hal ini juga berlaku dalam menyikapi masalah pandemi Covid-19 yang mewabah secara luas di dunia. Walau ada pakar yang menyelisihi, tetapi hanya satu-dua orang saja. Justru merekalah sebagai oknum ilmuwan yang menggaungkan konspirasi.
"Walaupun ada orang yang berbeda ya kita ambil gampangnya saja. kalau dari sejuta dokter itu percaya pada covid dan vaksinasi ada 1-2 yang miring dan tidak, gitu percaya yang banyak. Jangan percaya yang sedikit. Dalam ilmu itu jelas pakai ijtihad jama’i. Bukan soal one man one vote, tidak ada hubungannya itu. Kalau sudah semua ilmuwan, itu tidak mungkin berkonspirasi wong agamanya beda, pilihan politiknya beda, golongannya juga beda, rasnya juga berbeda jadi para ilmuwan yang banyak itu harus lebih dipercaya daripada yang satu dua,” kata Haedar Nashir dalam kuliah umum STKIP Muhammadiyah Kuningan, dilansir Muhammadiyah.or.id, Senin (19/7).
Dalam kuliah umum tersebut, Haedar berpesan agar masyarakat tidak terseret arus dan fitnah. Khususnya bagi Muhammadiyah yang memiliki karakter keilmuan kuat dibandingkan dengan sikap emosional semata.
"Seperti sekarang Muhammadiyah punya lembaga MCCC untuk menghadapi Covid-19 ini yang dalam organisasi itu berdasarkan ilmu, dari ahli epidemilogi, para dokter, kemudian ahli-ahli sains yang lain. Sehingga ketika Muhammadiyah mengambil kebijakan itu berdasarkan ilmu. Di Majelis Tarjih juga sama. Ada yang ahli ilmu agama secara umum, dan ahli di berbagai bidang ilmu sehingga ketika Tarjih mengambil kesimpulan, keputusan itu juga bil ilmi,” tegasnya.
Haedar berpesan, semua pernyataan akan dipertanggungjawabkan di akhirat sehingga berbagai pernyataan yang menggampangkan pandemi seperti pendapat untuk takut kepada Allah saja daripada Covid-19 pun akan memiliki hisab yang berat.
"Maka jangan sembarangan ketika kita bilang bahwa wah kalau kita berikan, ga usah takut kepada Covid, takut saja kepada Allah. Nah itu ciri berpikir yang tidak bil ilmi itu, atau jika dengan ilmu, ilmunya terbatas,” pesan Haedar membawakan ayat 36 Surat Al-Isra’.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, anggapan satu atau dua ilmuwan yang menyelisihi kebenaran universal tersebut tidak bisa membatalkan kebenaran ijtihad jama’i. Hal ini juga berlaku dalam menyikapi masalah pandemi Covid-19 yang mewabah secara luas di dunia. Walau ada pakar yang menyelisihi, tetapi hanya satu-dua orang saja. Justru merekalah sebagai oknum ilmuwan yang menggaungkan konspirasi.
"Walaupun ada orang yang berbeda ya kita ambil gampangnya saja. kalau dari sejuta dokter itu percaya pada covid dan vaksinasi ada 1-2 yang miring dan tidak, gitu percaya yang banyak. Jangan percaya yang sedikit. Dalam ilmu itu jelas pakai ijtihad jama’i. Bukan soal one man one vote, tidak ada hubungannya itu. Kalau sudah semua ilmuwan, itu tidak mungkin berkonspirasi wong agamanya beda, pilihan politiknya beda, golongannya juga beda, rasnya juga berbeda jadi para ilmuwan yang banyak itu harus lebih dipercaya daripada yang satu dua,” kata Haedar Nashir dalam kuliah umum STKIP Muhammadiyah Kuningan, dilansir Muhammadiyah.or.id, Senin (19/7).
Dalam kuliah umum tersebut, Haedar berpesan agar masyarakat tidak terseret arus dan fitnah. Khususnya bagi Muhammadiyah yang memiliki karakter keilmuan kuat dibandingkan dengan sikap emosional semata.
"Seperti sekarang Muhammadiyah punya lembaga MCCC untuk menghadapi Covid-19 ini yang dalam organisasi itu berdasarkan ilmu, dari ahli epidemilogi, para dokter, kemudian ahli-ahli sains yang lain. Sehingga ketika Muhammadiyah mengambil kebijakan itu berdasarkan ilmu. Di Majelis Tarjih juga sama. Ada yang ahli ilmu agama secara umum, dan ahli di berbagai bidang ilmu sehingga ketika Tarjih mengambil kesimpulan, keputusan itu juga bil ilmi,” tegasnya.
Haedar berpesan, semua pernyataan akan dipertanggungjawabkan di akhirat sehingga berbagai pernyataan yang menggampangkan pandemi seperti pendapat untuk takut kepada Allah saja daripada Covid-19 pun akan memiliki hisab yang berat.
"Maka jangan sembarangan ketika kita bilang bahwa wah kalau kita berikan, ga usah takut kepada Covid, takut saja kepada Allah. Nah itu ciri berpikir yang tidak bil ilmi itu, atau jika dengan ilmu, ilmunya terbatas,” pesan Haedar membawakan ayat 36 Surat Al-Isra’.