LANGIT7.ID, Jakarta - Para ilmuwan dikenal sebagai kelompok yang memiliki standar ketat dalam memutuskan satu masalah atau perkara. Untuk menyepakati satu hal tertentu, mereka memakai kesepakatan yang kebenarannya berlaku secara universal di semua tempat. Dalam Islam disebut sebagai
ijtihad jama’i.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, anggapan satu atau dua ilmuwan yang menyelisihi kebenaran universal tersebut tidak bisa membatalkan kebenaran
ijtihad jama’i. Hal ini juga berlaku dalam menyikapi masalah pandemi Covid-19 yang mewabah secara luas di dunia. Walau ada pakar yang menyelisihi, tetapi hanya satu-dua orang saja. Justru merekalah sebagai oknum ilmuwan yang menggaungkan konspirasi.
"Walaupun ada orang yang berbeda ya kita ambil gampangnya saja. kalau dari sejuta dokter itu percaya pada covid dan vaksinasi ada 1-2 yang miring dan tidak, gitu percaya yang banyak. Jangan percaya yang sedikit. Dalam ilmu itu jelas pakai
ijtihad jama’i. Bukan soal one man one vote, tidak ada hubungannya itu. Kalau sudah semua ilmuwan, itu tidak mungkin berkonspirasi wong agamanya beda, pilihan politiknya beda, golongannya juga beda, rasnya juga berbeda jadi para ilmuwan yang banyak itu harus lebih dipercaya daripada yang satu dua,” kata Haedar Nashir dalam kuliah umum STKIP Muhammadiyah Kuningan, dilansir Muhammadiyah.or.id, Senin (19/7).
Dalam kuliah umum tersebut, Haedar berpesan agar masyarakat tidak terseret arus dan fitnah. Khususnya bagi Muhammadiyah yang memiliki karakter keilmuan kuat dibandingkan dengan sikap emosional semata.
"Seperti sekarang Muhammadiyah punya lembaga MCCC untuk menghadapi Covid-19 ini yang dalam organisasi itu berdasarkan ilmu, dari ahli epidemilogi, para dokter, kemudian ahli-ahli sains yang lain. Sehingga ketika Muhammadiyah mengambil kebijakan itu berdasarkan ilmu. Di Majelis Tarjih juga sama. Ada yang ahli ilmu agama secara umum, dan ahli di berbagai bidang ilmu sehingga ketika Tarjih mengambil kesimpulan, keputusan itu juga bil ilmi,” tegasnya.
Haedar berpesan, semua pernyataan akan dipertanggungjawabkan di akhirat sehingga berbagai pernyataan yang menggampangkan pandemi seperti pendapat untuk takut kepada Allah saja daripada Covid-19 pun akan memiliki hisab yang berat.
"Maka jangan sembarangan ketika kita bilang bahwa wah kalau kita berikan, ga usah takut kepada Covid, takut saja kepada Allah. Nah itu ciri berpikir yang tidak bil ilmi itu, atau jika dengan ilmu, ilmunya terbatas,” pesan Haedar membawakan ayat 36 Surat Al-Isra’.
“Apalagi sampai berkata ‘Ya sudahlah kalau sudah meninggal ya meninggal’. (Mati) Itu memang takdir Allah tapi ikhtiar itu juga harus bil ilmi. Allah berfirman (dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penghlihatan, dan seluruh tubuh akan dimintai pertanggungjawaban). Maka jangan sampai berkata berbuat tanpa ilmu,” katanya.
Berkata Baik atau DiamPada kesempatan yang sama, Haedar Nashir juga menegaskan, teladan baik harus sejalan antara kata dan tindakan.
Akhlak terpuji juga ditekankan untuk menjadi ciri yang melekat bagi mereka.
"Iman akhlak itu juga harus konkret. Orang Islam itu beriman kepada Allah, maka dia tidak akan korupsi. Maka seorang muslim jadi pejabat insya Allah tidak korupsi. Tapi kalau masih korupsi padahal sudah naik haji, padahal umrah, berarti keimanannya belum teruji. Itu iman
amaliyah namanya,” kata Haedar.
Menurut dia, akhlak juga sama. Bahkan Nabi Muhammad SAW memerintahkan ummatnya untuk berkata baik atau diam. Di era media sosial saat ini, apakah semua orang sudah menunjukkan sikap sebagaimana perintah Rasulullah SAW tersebut? Bermedsos dengan
akhlakul karimah? Tidak gampang menerima hoaks, apalagi menyebarkannya. Kemudian kalau merespons sesuatu, harus tetap dengan bahasa yang baik atau
hilmul kalam.
"
Hilmul kalam itu bukan berarti kita lemah. Justru hebatnya di situ. Kan sering ada anggapan pada orang kalau orang itu damai, bahasanya lemah lembut itu dianggap lemah. Kalau dianggap orang amar makruf nahi munkar yang hebat itu kalau yang sikapnya keras, garang, apa iya?,” tanya Haedar.
Dia menyampaikan bahwa sikap keras dan reaktif itu bukan ukuran ketegasan. Bahkan banyak masalah justru tak terselesaikan dengan cara itu dibandingkan dengan sikap yang sabar dan lemah lembut.
"Di era modern itu coba lihat orang-orang di negara maju itu cara bicaranya juga santun dan lain sebagainya. Di saat kita ingin mengatakan sesuatu yang haq, kita juga bisa bersuara dengan cara yang tegas, berilmu, pakai ilmu, bukan pakai otot. Nah paradigma seperti ini perlu kita ubah,” jelasnya.
Akhlak, kata dia, adalah wajib dan harus menjadi pondasi. Jangan sampai muslim Indonesia atau tokoh Islam justru tidak menjadi uswah hasanah (teladan yang baik). Nah, di sini daya saing Muslim Indonesia, di mana harus menjaga akhlak yang baik agar orang lain juga senang.
(jak)