Kisah Sayyidah Hajar dan Nabi Ismail di Lembah yang Sunyi
Azhar azis
Selasa, 20 Juli 2021 - 12:00 WIB
Masjid Halil-ur Rahman (Kekasih Allah) dan Kolam Ibrahim, Urfa (Sanliurfa), Turki. Foto: LANGIT7.ID/ iStock)
Nabi Ibrahim Khalilullah dan istrinya, Sayyidah Sarah, memutuskan pindah ke Mesir dan tinggal di sana dalam jangka waktu tertentu. Sarah tidak memiliki anak disebabkan mandul. Hingga rambut Nabiyullah Ibrahim AS memutih, belum juga dikaruniai keturunan.
Usia yang terus bertambah tak menghentikannya bermunajat kepada Allah agar diberi keturunan yang kelak menjadi nabi-nabi dan penerus risalah Tauhid yaitu Islam. Nabi Ibrahim tak pernah putus asa. Sementara istrinya, Sarah, berpikir bahwa Ibrahim kesepian karena tak kunjung dikaruniai buah hati.
Disebutkan, usia Sarah saat itu menginjak 67, lainnya menyebut 77 tahun. Sedangkan Baginda Ibrahim berusia 87 tahun. Tercetuslah ide di benak Sarah untuk menikahkan suaminya dengan Sayyidah Hajar. Status Hajar saat itu adalah pelayan yang diberikan kepada Sarah dari raja yang berkuasa saat itu.
Nabi Ibrahim pun menikahi Hajar hingga akhirnya diberi karunia seorang putra bernama Ismail. Namun, rumah tangga Ibrahim berguncang. Kehadiran Hajar dan Ismail membuat Sarah cemburu, layaknya wanita biasa lainnya. Maka turunlah perintah dari langit agar Nabi Ibrahim AS membawa Hajar dan putranya Ismail ke gurun tandus di Makkah.
Dinukil dari Kisas al-Anbiya' dan Story of Ibrahim (alim.org), Nabi Ibrahim AS bangun dan meminta istrinya, Hajar, untuk membawa serta putranya dalam sebuah perjalanan panjang. Tibalah waktunya, mereka pergi meski sang anak masih menyusui dan dan belum disapih.
Nabi Ibrahim, Hajar, dan ismail, berjalan melalui pertanian, gurun, dan pegunungan sampai mencapai sebuah gurun di Semenanjung Arab. Mereka pun tiba di sebuah lembah yang gersang. Sunyi tak berpenghuni. Tak ada jejak manusia di sana. Tiada tanaman, apalagi buah-buahan atau hasil bumi. Air untuk minum pun kering.
Lembah itu tak memiliki tanda-tanda kehidupan. Kemudian, Ibrahim membantu istri dan anaknya turun ke lembah tersebut. Hanya sekantung air sebagai bekal untuk Hajar dan Ismail, serta beberapa butir kurma. Ibrahim pun meninggalkan mereka berdua di lembah itu.
Usia yang terus bertambah tak menghentikannya bermunajat kepada Allah agar diberi keturunan yang kelak menjadi nabi-nabi dan penerus risalah Tauhid yaitu Islam. Nabi Ibrahim tak pernah putus asa. Sementara istrinya, Sarah, berpikir bahwa Ibrahim kesepian karena tak kunjung dikaruniai buah hati.
Disebutkan, usia Sarah saat itu menginjak 67, lainnya menyebut 77 tahun. Sedangkan Baginda Ibrahim berusia 87 tahun. Tercetuslah ide di benak Sarah untuk menikahkan suaminya dengan Sayyidah Hajar. Status Hajar saat itu adalah pelayan yang diberikan kepada Sarah dari raja yang berkuasa saat itu.
Nabi Ibrahim pun menikahi Hajar hingga akhirnya diberi karunia seorang putra bernama Ismail. Namun, rumah tangga Ibrahim berguncang. Kehadiran Hajar dan Ismail membuat Sarah cemburu, layaknya wanita biasa lainnya. Maka turunlah perintah dari langit agar Nabi Ibrahim AS membawa Hajar dan putranya Ismail ke gurun tandus di Makkah.
Dinukil dari Kisas al-Anbiya' dan Story of Ibrahim (alim.org), Nabi Ibrahim AS bangun dan meminta istrinya, Hajar, untuk membawa serta putranya dalam sebuah perjalanan panjang. Tibalah waktunya, mereka pergi meski sang anak masih menyusui dan dan belum disapih.
Nabi Ibrahim, Hajar, dan ismail, berjalan melalui pertanian, gurun, dan pegunungan sampai mencapai sebuah gurun di Semenanjung Arab. Mereka pun tiba di sebuah lembah yang gersang. Sunyi tak berpenghuni. Tak ada jejak manusia di sana. Tiada tanaman, apalagi buah-buahan atau hasil bumi. Air untuk minum pun kering.
Lembah itu tak memiliki tanda-tanda kehidupan. Kemudian, Ibrahim membantu istri dan anaknya turun ke lembah tersebut. Hanya sekantung air sebagai bekal untuk Hajar dan Ismail, serta beberapa butir kurma. Ibrahim pun meninggalkan mereka berdua di lembah itu.