Mengenal KH Yahya Cholil Staquf, Putra Kiai dengan Kiprah Mendunia
Muhajirin
Jum'at, 24 Desember 2021 - 14:06 WIB
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Foto: istimewa)
KH Yahya Cholil Staquf atau akrab disapa Gus Yahya terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Sidang Muktamar NU ke-34 di Lampung pada Jumat (24/12/2021). Pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah pada 16 Februari 1966 itu merupakan putra KH Muhammad Cholil Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Tholibin di Leteh, Rembang, Jawa Tengah.
Gus Yahya sejak kecil sudah dekat dengan dunia pesantren. Sang kakek, KH Bisri Mustofa, adalah pengarang Kitab Tafsir Al-Ibris. Ia lahir dan besar di lingkungan pesantren, sudah digembleng ilmu agama sejak dini. Meski orang tuanya merupakan pendiri pesantren, namun ia dikirim untuk nyantri ke Madrasah Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta yang diasuh KH Ali Maksum.
Saat nyantri di Al-Munawwir, ia juga kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (FISIP UGM). Selama kuliah, ia aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta. Ia juga pernah mukim selama satu tahun di Mekkah untuk belajar agama.
Gus Yahya dikenal dekat dengan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia pernah juru bicara presiden saat Gus Dur berkuasa pada 1999-2001. Setelah itu, ia sempat aktif di PKB, tapi kemudian memilih menekuni bidang pendidikan.
Pada 2014, Gus Yahya tercatat sebagai salah satu inisiator pendiri institut keagamaan di California, Amerika Serikat yakni Bayt Ar-Rahmah Lil adDa’wa Al-Islamiyah rahmatan Li Al-alamin. Lembaga itu mengkaji agama Islam untuk perdamaian dan rahmat alam.
Tak hanya itu, ia juga pernah dipercaya menjadi tenaga ahli perumus kebijakan pada Dewan Eksekutif Agama-Agama di Amerika Serikat-Indonesia yang didirikan berdasarkan perjanjian bilateral. Perjanjian itu ditandatangani Presiden Obama dan Presiden Jokowi pada Oktober 2015 untuk menjalin kemitraan strategis antara Amerika Serikat dan Indonesia.
Gus Yahya pernah didaulat sebagai utusan GP Anshor dan PKB untuk jaringan politik tersebar di Eropa dan Dunia, Centrist Democrat International (CD) dan European People’s Party (EPP). American Jewish Committee (AJC) pernah mengundangnya berpidato tentang resolusi konflik keagamaan.
Gus Yahya sejak kecil sudah dekat dengan dunia pesantren. Sang kakek, KH Bisri Mustofa, adalah pengarang Kitab Tafsir Al-Ibris. Ia lahir dan besar di lingkungan pesantren, sudah digembleng ilmu agama sejak dini. Meski orang tuanya merupakan pendiri pesantren, namun ia dikirim untuk nyantri ke Madrasah Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta yang diasuh KH Ali Maksum.
Saat nyantri di Al-Munawwir, ia juga kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (FISIP UGM). Selama kuliah, ia aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta. Ia juga pernah mukim selama satu tahun di Mekkah untuk belajar agama.
Gus Yahya dikenal dekat dengan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia pernah juru bicara presiden saat Gus Dur berkuasa pada 1999-2001. Setelah itu, ia sempat aktif di PKB, tapi kemudian memilih menekuni bidang pendidikan.
Pada 2014, Gus Yahya tercatat sebagai salah satu inisiator pendiri institut keagamaan di California, Amerika Serikat yakni Bayt Ar-Rahmah Lil adDa’wa Al-Islamiyah rahmatan Li Al-alamin. Lembaga itu mengkaji agama Islam untuk perdamaian dan rahmat alam.
Tak hanya itu, ia juga pernah dipercaya menjadi tenaga ahli perumus kebijakan pada Dewan Eksekutif Agama-Agama di Amerika Serikat-Indonesia yang didirikan berdasarkan perjanjian bilateral. Perjanjian itu ditandatangani Presiden Obama dan Presiden Jokowi pada Oktober 2015 untuk menjalin kemitraan strategis antara Amerika Serikat dan Indonesia.
Gus Yahya pernah didaulat sebagai utusan GP Anshor dan PKB untuk jaringan politik tersebar di Eropa dan Dunia, Centrist Democrat International (CD) dan European People’s Party (EPP). American Jewish Committee (AJC) pernah mengundangnya berpidato tentang resolusi konflik keagamaan.