Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 07 Mei 2026
home sosok muslim detail berita

Mengenal KH Yahya Cholil Staquf, Putra Kiai dengan Kiprah Mendunia

Muhajirin Jum'at, 24 Desember 2021 - 14:06 WIB
Mengenal KH Yahya Cholil Staquf, Putra Kiai dengan Kiprah Mendunia
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Foto: istimewa)
LANGIT7.ID - KH Yahya Cholil Staquf atau akrab disapa Gus Yahya terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Sidang Muktamar NU ke-34 di Lampung pada Jumat (24/12/2021). Pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah pada 16 Februari 1966 itu merupakan putra KH Muhammad Cholil Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Tholibin di Leteh, Rembang, Jawa Tengah.

Gus Yahya sejak kecil sudah dekat dengan dunia pesantren. Sang kakek, KH Bisri Mustofa, adalah pengarang Kitab Tafsir Al-Ibris. Ia lahir dan besar di lingkungan pesantren, sudah digembleng ilmu agama sejak dini. Meski orang tuanya merupakan pendiri pesantren, namun ia dikirim untuk nyantri ke Madrasah Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta yang diasuh KH Ali Maksum.

Saat nyantri di Al-Munawwir, ia juga kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (FISIP UGM). Selama kuliah, ia aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta. Ia juga pernah mukim selama satu tahun di Mekkah untuk belajar agama.

Gus Yahya dikenal dekat dengan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia pernah juru bicara presiden saat Gus Dur berkuasa pada 1999-2001. Setelah itu, ia sempat aktif di PKB, tapi kemudian memilih menekuni bidang pendidikan.

Pada 2014, Gus Yahya tercatat sebagai salah satu inisiator pendiri institut keagamaan di California, Amerika Serikat yakni Bayt Ar-Rahmah Lil adDa’wa Al-Islamiyah rahmatan Li Al-alamin. Lembaga itu mengkaji agama Islam untuk perdamaian dan rahmat alam.

Tak hanya itu, ia juga pernah dipercaya menjadi tenaga ahli perumus kebijakan pada Dewan Eksekutif Agama-Agama di Amerika Serikat-Indonesia yang didirikan berdasarkan perjanjian bilateral. Perjanjian itu ditandatangani Presiden Obama dan Presiden Jokowi pada Oktober 2015 untuk menjalin kemitraan strategis antara Amerika Serikat dan Indonesia.

Gus Yahya pernah didaulat sebagai utusan GP Anshor dan PKB untuk jaringan politik tersebar di Eropa dan Dunia, Centrist Democrat International (CD) dan European People’s Party (EPP). American Jewish Committee (AJC) pernah mengundangnya berpidato tentang resolusi konflik keagamaan.

Pada 2018, menjadi pembicara dalam forum American Jewish Committee (AJC) di Israel. Dalam forum ini, Gus Yahya menyuarakan konsep rahma, sebagai solusi bagi konflik dunia, termasuk konflik yang disebabkan agama. Ia menawarkan perdamaian dunia melalui jalur-jalur penguatan pemahaman agama yang damai.

Pada 15 Juli 2021, Gus Yahya menyampaikan pidato kuci berjudul “the Rising Tide of Religious Nationalism” (Pasang Naik Nasionalisme Religius) dalam perhelatan International Religious Freedom (IRF) Summit, di Washington, DC, Amerika Serikat.

Anak Perubahan, Anak NU, dan Anak Gus Dur

Dalam buku perjalanan hidup Gus Yahya berjudul Biografi KH Yahya Cholil Staquf: Derap Langkah dan Gagasan karya Septa Dinata, disebutkan Gus Yahya digambarkan sebagai anak perubahan, anak NU, dan anak Gus Dur.

Sebagai anak perubahan, lantaran dilahirkan dan tumbuh dihadapkan oleh dinamika perubahan yang luar biasa dalam konteks pesantren dan NU. Pada 1960-an, 1970-an, dan 1980-an, sangat dramatis, karena itu sebagai momentum perubahan yang terkait dengan NU dan dunia pesantren, serta bertabrakan dengan skenario politik dari penguasa.

Saat itu, NU harus bertabrakan dengan scenario politik dari penguasa yang sangat kuat pada awal Orde Baru. Saat itu, NU harus melepaskan diri sebagai partai politik untuk bergabung berfusi dengan partai-partai Islam lain di Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

1970-an merupakan tahun-tahun yang paling dramatis karena pertemuan dunia pesantren tradisional dengan realitas modern. Ketika itu negara sebagai agen dari modernitas semakin dalam mencengkram masyarakat, termasuk institusi sosial yang ada dalam pesantren.

Nah, Gus Yahya tumbuh di tengah-tengah peruahan psikologi itu. Secara mental, ia mengalami perubahan-perubahan dramatis tentang cara pandang realitas dan menanggapi realitas itu sendiri.

Sebagai anak NU, Gus Yahya adalah keturunan asli NU. Orang tuanya hingga sang kakek adalah pentolan NU dan dia juga dibesarkan di lingkungan NU sejak kecil hingga dewasa. Saat lahir, sang kakek merupakan pengurus wilayah NU Jawa Tengah dan ayah adalah pemimpin cabang gerakan Ansor Rembang. Saat kecil, sang ayah menjai ketua cabang NU. Sebagian besar pergulatan mental Gus Yahya tidak ada elemen-elemen yang tidak terkait dengan NU.

Sebagai anak Gus Dur, karena semenjak kenal secara pribadi, pikiran-pikiran pergulatan mental Gus Yahya selalu merujuk kepada Gus Dur. Bahkan, factor Gus Dur menjadi salah satu alasan ia maju menjadi Ketua Umum PBNU.

Sebagai anak perubahan, anak NU, dan anak Gus Dur, Gus Yahya lebih cenderung untuk berpikir dalam kerangka gerakan sosial ketimbang keterlibatan intelektual dan akademis. Jadi, jika disebutkan tentang cara menggabungkan wacana tradisional dengan modern antara kitab-kitab kuning dengan kitab putih, Gus Yahya mengikuti pergulatan di sekitar itu. Namun, ketertarikan Gus Yahya cenderung aspek NU sebagai gerakan sosial, karena dianggap bisa lebih efektif kerja yang lebih baik untuk merespons berbagai masalah-masalah yang ada.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 07 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)