Dosen Unusia: Perbedaan Itu Sejatinya Sunatullah
Jaja Suhana
Selasa, 11 Januari 2022 - 09:40 WIB
Ilustrasi. Foto: Langit7/iStock.
Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Dr Tohirin, menyampaikan bahwa perbedaan merupakan sunatullah (ketetapan Allah). Oleh karena itu orang yang tidak dapat menerima perbedaan sejatinya menentang sunatullah.
Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Cisauk memberikan pandangan bahwa Islam sangat menerima perbedaan. Hal itu berdasarkan firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 256, la ikraha fiddin (tidak ada paksaan dalam menganut agama Islam) dan firman-Nya dalam surat Al Kafirun ayat enam, lakum dinukum waliyadin (untukmu agamamu dan untukku agamaku).
"Jadi perbedaan itu sudah sunatullah. Ada siang ada malam, ada hidup dan ada mati," ujar Tohirin saat dihubungi Langit7, Selasa (11/1/2022) pagi.
Baca Juga:Imam Shamsi Ali Ungkap 8 Tantangan dan Peluang Dakwah di Amerika
Dalam sejarah, lanjutnya, Nabi Muhammad Sawa pun dihadapkan pada banyak perbedaan. Misalnya pada saat ia hijrah ke Madinah, di sana terdapat perbedaan agama, ras, dan budaya. Terdapat agama Nasrani, Yahudi, dan agama lokal di Madinah.
Saat itu nabi tidak memusuhi atau menolak perbedaan, melainkan merangkulnya. Bahkan Nabi Muhammad Saw mengajak semua elemen masyarakat bekerja sama mempertahankan Negara Madinah dari ancaman luar.
"Saat itu nabi mengajak semuanya bahu-membahu mempertahankan negara Madinah tanpa membeda-bedakakan," ujar Tohirin.
Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Cisauk memberikan pandangan bahwa Islam sangat menerima perbedaan. Hal itu berdasarkan firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 256, la ikraha fiddin (tidak ada paksaan dalam menganut agama Islam) dan firman-Nya dalam surat Al Kafirun ayat enam, lakum dinukum waliyadin (untukmu agamamu dan untukku agamaku).
"Jadi perbedaan itu sudah sunatullah. Ada siang ada malam, ada hidup dan ada mati," ujar Tohirin saat dihubungi Langit7, Selasa (11/1/2022) pagi.
Baca Juga:Imam Shamsi Ali Ungkap 8 Tantangan dan Peluang Dakwah di Amerika
Dalam sejarah, lanjutnya, Nabi Muhammad Sawa pun dihadapkan pada banyak perbedaan. Misalnya pada saat ia hijrah ke Madinah, di sana terdapat perbedaan agama, ras, dan budaya. Terdapat agama Nasrani, Yahudi, dan agama lokal di Madinah.
Saat itu nabi tidak memusuhi atau menolak perbedaan, melainkan merangkulnya. Bahkan Nabi Muhammad Saw mengajak semua elemen masyarakat bekerja sama mempertahankan Negara Madinah dari ancaman luar.
"Saat itu nabi mengajak semuanya bahu-membahu mempertahankan negara Madinah tanpa membeda-bedakakan," ujar Tohirin.