LANGIT7.ID, Jakarta - Amerika Serikat (AS) merupakan negara super power yang menguasai ekonomi global. Selain memiliki pengaruh dalam ekonomi, AS juga memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perpolitikan dunia. Setiap kebijakan pemerintah AS berdampak besar terhadap dunia internasional.
Namun demikian, AS memiliki satu penyakit kronis yang belum terobati, yakni rasisme. Di balik majunya negara tersebut, mayoritas warganya masih memandang rendah terhadap warga lain yang berbeda. Misalnya yang berbeda warna kulit, budaya, agama, dan sebagainya.
Imam Islamic Center di New York Muhammad Shamsi Ali mengungkapkan pengalamannya selama berdakwah di AS. Ia menilai terdapat banyak tantangan dan peluang dalam berdakwah di negeri Paman Sam. Berikut ulasannya untuk Anda.
Baca Juga: Cendekiawan Muslim Shamsi Ali Ingatkan Bahaya Sektarianisme1. Amerika Serikat kuat secara ekonomi, militer, dan politikAmerika Serikat merupakan negara adidaya yang menguasai sekitar 25 persen perekonomian global. Selain itu AS didukung oleh militer yang kuat. AS juga memiliki sistem perpolitikan yang mapan, di mana pergolakan politik di negeri itu tidak terlalu berimbas pada kehidupan masyarakat.
"Dakwah kita bukan hanya sekadar ceramah berapi-api, tapi bagaimana Islam ini bisa memberikan kontribusi di dalam sistem yang sudah bagus itu," kata Shamsi Ali, dikutip dari Hijrahfest Official, Selasa (11/1/2022).
2. Institusi hukum kuatPada saat menjabat menjadi Presiden AS, Donald Trump pernah mengeluarkan larangan orang Islam masuk negaranya (Muslim Ban). Kemudian banyak orang muslim yang menuntut ke pengadilan, selanjutnya pengadilan membatalkan keputusan tersebut. Suatu peraturan yang bertentangan dengan hukum tidak berlaku walaupun itu berasal dari presiden.
Menurut Syamsi Ali adanya supremasi hukum di AS membuat umat Islam berani untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Bahkan pada masa Donald Trump sekalipun yang sangat memusuhi Islam.
"Bahkan di masa Donald Trump inilah kami membeli lahan untuk mendirikan pondok pesantren, di masa Donald Trump kami juga mengadakan demontrasi besar-besaran di Time Square New York," ujarnya.
3. Kemampuan public relations (PR) AS dapat mengubah image negatifMenurut Syamsi Ali, Kasus bom WTC di New York pada 11 September 2001 silam mengubah persepsi dunia terhadap Islam. Itu menjadi contoh kekuatan PR Amerika Serikat yang kuat. Tantangan bagi dakwah Islam dalam hal ini adalah bagaimana melawan upaya merusak wajah Islam yang dipersepsikan negatif.
4. Sebagai negara imigran, di AS segalanya adaDi AS segala sesuatu ada, baik agama, ras, budaya, bangsa, dan sebagainya. Hal itu menjadi tantangan dalam membangun persatuan di AS. Namun demikian menjadi peluang bahwa Islam dapat menyatukan berbagai perbedaan.
Baca Juga: 5 Tema Khutbah Jumat Terkait Toleransi Beragama, Nomor 3 Sering Kendur"Kita bisa mengatakan bahwa pemersatu manusia paling hebat adalah Islam," tutur Shamsi Ali.
5. AS Negara sekuler namun agamisAS terkenal dengan istilah negara sekuler, tetapi sebetulnya sangat agamis. Sekularisme di AS berbeda dengan di Eropa. Contohnya penggunaan kalimat In God we trust, kepada Tuhan kami percaya (bertawakkal). Kalimat agama ini ada di lembaran uang dollar AS, dan di belakang tempat duduk hakim. Artinya AS yang dikenal sangat sekuler juga religius.
Syamsi Ali menjelaskan, makna sekuler berarti bahwa negara tidak berhak menentukan agama rakyatnya, namun wajib melindungi kebebasan beragama bagi setiap warga negara. Di AS tidak pernah dipertanyakan anggota polisi perempuan yang memakai jilbab, atau adzan yang dilarang berkumandang memakai pengeras suara.
Baca Juga: Imam Shamsi Ali: Toleransi Mengakui Eksistensi Umat Lain, Bukan Membenarkan Agamanya"Inilah peluang dakwah di AS, bagaimana kita berkompetisi dalam mengajak orang kepada kebaikan karena kebebasan beragama sangat dijamin di sana," ujarnya.
6. Keterbukaan dan keingintahuan yang tinggiSalah satu karakter warga negara AS yakni memiliki sikap keterbukaan yang kuat dan keingintahuan yang tinggi. Oleh karena itu ketika terjadi kasus WTC banyak dari warga AS yang mempelajari Islam dan kemudian banyak yang masuk Islam.
Keterbukaan itu juga menjadikan banyak warga AS di daerah perkampungan yang membenci Islam karena informasi dari media. Namun di daerah perkotaan banyak warga yang mengenal Islam lebih baik karena dapat berkomunikasi langsung dengan penganut agama Islam.
7. Isu rasisme Warga AS memiliki sikap keterbukaan dan keingintahuan yang tinggi namun sangat rasis. Rasisme itu dibawa oleh orang Eropa ke AS yang merasa bahwa orang berkulit putih lebih tinggi derajatnya.
"Ini bagi umat Islam menjadi peluang dakwah tersendiri, di dalam Islam semua orang dipandang sama termasuk dari warna kulitnya. Tidak ada keutamaan Arab dari non Arab, tidak ada keutamaan orang berkulit putih terhadap kulit hitam. yang membedakan hanyalah ketakwaannya," kata Shamsi Ali.
8. Banyak gereja yang dijual di ASSekularisme di AS banyak memberikan keuntungan bagi umat Islam, salah satunya banyak gereja yang dijual lalu kemudian dibeli dan dijadikan masjid oleh kaum muslim. Keuntungannya, umat muslim tidak perlu membangun kembali dan tidak perlu bersusah payah mengurus ijin rumah ibadah karena sudah ada ijin sebelumnya.
Di antara masjid orang Indonesia di AS yang sebelumnya gereja, yakni Masjid Indonesian Muslim Asosiation in America (IMAAM) di Washington DC. Kemudian Masjid Istiqlal di Houston AS dan Masjid At Thohir di Los Angeles AS.
Semoga agama Islam semakin berkembang di AS. Serta dapat melalui berbagai tantangan dan merebut peluang yang dipaparkan di atas.
Baca Juga: Kisah: Wanita Amerika Masuk Islam karena Keramahan Seorang Muslim(zhd)