LANGIT7.ID, Jakarta - Hidayah adalah karunia terbesar dari Allah kepada hamba-hambanya. Hidayah harus senantiasa diupayakan dan dijemput agar Allah senantiasa memberi petunjuk kepada jalan kebenaran.
Adakalanya, hidayah juga muncul dari hal-hal yang tidak terduga dan sangat sederhana. Seperti yang dikisahkan Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali berikut ini. Hidayah Islam menggapai seorang perempuan berkat keramahtamahan seorang muslim.
“Ada sebuah kisah nyata yang sering saya sampaikan di berbagai tempat dan kesempatan. Kisah seorang muallaf, wanita Hispanic keturunan Colombia. Kisahnya tidak saja menjadi motivasi untuk kita. Sekaligus menjadi cambuk untuk mengkokohkan iman akan “Qudrah Ilahi” yang pasti berlaku,” kata Shamsi Ali, Sabut (11/12/2021).
Baca Juga: Pintar Bermain Kata, Imam Shamsi Ali: Waspada Pemikiran LiberalIa menceritakan, suatu senja beberapa saat menjelang Maghrib tiba-tiba petugas keamanan masjid mengantar seorang wanita muda ke kantornya. Petugas tersebut hanya menyampaikan singkat bahwa wanita tersebut ingin mendalami Islam.
Wanita tersebut bernama Carla, usianya sekitar 22 tahun. Orang tuanya datang ke Amerika saat Carla balita. Sehingga baik bahasa maupun budayanya lebih dominan American ketimbang Hispanic. Masa dewasa, Carla bekerja sebagai cashier di sebuah pertokoan di New York, Amerika Serikat.
“Saya seperti biasa menyambutnya dengan seramah mungkin. Sebab saya sangat yakin dakwah banyak ditentukan oleh persepsi awal dari seseorang tentang Islam. Dan Islam akan pertama kali dikenal dari interaksi orang dengan orang Islam,” kata Shamsi Ali.
Ia menggambarkan pertemuan awal tersebut nampak membuat Carla gugup. Imam Shamsi Ali pun berusaha meyakinkan bahwa Islam adalah agama yang sangat egaliter, Islam tidak mengenal istilah orang suci.
Baca Juga: Imam Besar Masjid New York Kritik Kemal Ataturk Jadi Nama Jalan“Nampaknya Carla terpengaruh dengan tradisi Katolik yang menganggap seorang pendeta sebagai orang suci. Dan karenanya dia nampak sangat berhati-hati bahkan gugup,” kata Shamsi Ali.
Carla mengutarakan isi hatinya yang hendak memeluk Islam, menjadi seorang muslim. Umumnya non Muslim di Amerika menyebut Muslim dengan “Moslem”. Bahkan kadang dengan penyebutan yang tidak tepat “Moz-lim”. Akhirnya kata itu mengandung konotasi buruk dalam bahasa Arab: orang zholim.
“Saya agak terkejut. Selain karena masih muda yang biasanya tahunya hura-hura Carla juga nampak belum tahu sama sekali tentang Islam. Maklum pekerjaannya sebagai kasir di sebuah toko tidak memberi ruang untuk belajar hal lain,” kata Shamsi Ali.
Carla bercerita ia tertarik mendalami Islam karena sebuah interaksi dengan teman muslimnya saat bekerja di toko. Carla merasa teman muslimnya itu sebagai sosok yang menyenangkan, seolah-olah tidak ada beban hidup di pundaknya.
Saat pertama berjumpa dengan temannya, Carla kaget dengan pakaian yang dipakainya. Bagi Carla pakaian itu aneh. Karena hampir semua wanita memakai pakaian terbuka khususnya di musim panas. Tapi wanita itu justru datang bekerja dengan pakaian menutup badannya dari kepala ke ujung kaki.
Baca Juga: Apa Itu Tawadhu? Sikap Harus Dimiliki Seorang PendakwahTapi ada hal yang lebih menarik perhatian Carla. Setiap hari dia datang ke tempat kerjanya dengan senyuman dan sapaan yang ramah. Hingga suatu ketika Carla ingin cari tahu apakah temannya itu memang tidak ada masalah dalam hidupnya.
“Don’t you have any problem in life?, tanyanya kepada temannya.
Temannya itu menarik tangannya ke samping dan menceritakan semua masalahnya. Bagaimana wanita itu sebelum menikah ketemu orang Islam, lalu pacaran. Pria Islam itu baik. Santun, ramah, suka menolong. Akhirnya wanita itu tertarik belajar Islam dan masuk Islam.
Mereka pun menikah. Tapi berselang beberapa waktu lelaki itu berubah. Dari seseorang yang santun, lembut menjadi kasar dan sering marah. Bahkan puncaknya ketika wanita itu telah melahirkan anaknya, lelaki itu menceraikannya tanpa tanggung jawab apa-apa.
Tapi wanita itu tetap dalam keimanan dan Islam. Hingga suatu ketika di saat tinggal di sebuah penampungan sementara (shelter) di Manhattan dia membaca iklan jika sebuah toko membutuhkan pekerja. Diapun melamar dan diterima di toko itu.
Mendengar itu Carla terkejut. Tapi juga ingin tahu Kenapa di tengah semua masalah dan beban hidup yang dia hadapi masih saja tersenyum setiap hari?
Baca Juga: Menjaga Kesehatan Bagian dari Syariat IslamJawaban wanita lebih mengejutkan lagi, “Because I have Allah in my life.”
Mendengar itu Carla sebenarnya tidak tahu siapa atau apa tentang Allah. Tapi serta merta saking kagumnya dia berkata, “I want to have Allah in my life too.”
Wanita itulah yang kemudian menganjurkan Carla untuk datang ke masjid. Dan ternyata wanita itu adalah juga mantan murid Imam Shamsi Ali di tahun 2007-2008 lalu di Islamic Center New York. Namanya Jessica dan juga keturunan Colombia.
“Tanpa terasa hampir sejam kami berbincang dengan Carla. Saya sekali lagi ingin memastikan jika dia ingin masuk Islam hari itu juga. Dan memastikan bahwa tidak ada paksaan dari pihak mana pun,” kata Imam Shamsi Ali.
Baca Juga: Mengenal Jenis Hati Agar Bisa Perbaiki DiriImam Shamsi Ali kemudian memanggil petugas keamanan masjid dan seorang jamaah yang telah hadir di masjid untuk shalat Magrib. Disaksikan kedua saksi itu Carla mengikrarkan dua kalimat syahadat.
“Carla mengingatkan kita semua bahwa harapan awal dan akhir kita ada di tangan Allah. Jika Allah hadir bersama kita maka segalanya menjadi ringan. Pahitnya kehidupan menjadi manis. Dan yang manis terasa lebih manis penuh makna. Insya Allah.”
(zhd)