LANGIT7.ID, Jakarta - Apa itu tawadhu? ialah sikap rendah hati. Sikap ini merupakan karakter penting dalam diri pendakwah karena secara prinsip, dakwah itu ajakan pada nilai-nilai kebaikan.
Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali menjelaskan, pendakwah yang menyerukan kepada jalan ketuhanan, tapi tidak memiliki karakter mulia merupakan 'self paradox' atau kontras pada dirinya.
"Ketawadhuan dalam dakwah hendaknya bermula dari karakter sang dai yang mengakui ketidaksempurnaan dan ragam kekurangan dalam berislam," kata Imam Shamsi Ali.
Kesadaran akan kekurangan dalam berislam dapat menjadi motivasi agar pendakwah terus bermujahadah lagi dalam menambah kualitas keislaman. Dengan demikian, kualitas dakwah turut meningkat.
"Karena memang kualitas dakwah itu ada pada ketauladanan dalam berislam itu sendiri," tuturnya.
Sebaliknya bahaya dan malapetaka terbesar dalam dakwah ada pada karakter dai yang angkuh. Merasa sempurna dan mampu. Tawadhu dalam dakwah juga ada pada bagaimana melihat objek dakwah itu sendiri. Bahwa siapapun dan bagaimanapun keadaannya semua orang memiliki sisi kebaikan dalam dirinya. Bahwa pada manusia itu ada jati diri yang paling mendasar yang tidak akan berubah. Itulah fitrah manusia.
"Maka dai yang tawadhu akan melihat semua orang dengan pandangan positif. Tidak menghakimi siapapun karena apapun dan bagaimanapun keadaannya. Tentu hal ini juga berarti bahwa dai yang tawadhu akan selalu memandang obyek Dakwah dengan mata positif," papar Imam Shamsi Ali.
(bal)