Ini Syarat Indonesia Keluar dari Jebakan Middle Income Trap
Mahmuda attar hussein
Rabu, 12 Januari 2022 - 17:30 WIB
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Foto: Langit7/Istock
Kajian Kementerian PPN/Bappenas mengungkapkan, Indonesia masih memerlukan pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 6 persen per tahun agar bisa keluar dari jebakan negara pendapatan menengah (middle income trap), sebelum 2045.
Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, salah satu kunci menggenjot pertumbuhan ekonomi 6 persen per tahun adalah dengan peningkatan produktivitas.
Kendati demikian, tingkat produktivitas ekonomi Indonesia masih rendah dibandingkan negara lain di kawasan ASEAN.
“Pertumbuhan di lima persen tidak cukup bagi Indonesia untuk menjadi negara dengan pendapatan perkapita yang tinggi,” kata dia di webinar internasional: Building A Good-Jobs Economy Through Productivity-Led Structural Transformation, Selasa (11/1).
Baca juga: Prospek Filantropi Islam pada 2022 Diprediksi Semakin Cerah
Selain itu, lanjut dia, Indonesia juga perlu menemukan sumber daya dan sektor yang mampu mendukung pertumbuhan produktivitas ekonomi.
Namun, saat ini tantangan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi cukup besar. Amalia menyoroti, industrialisasi yang kerap menjadi motor utama pertumbuhan, kinj semakin loyo dalam mendorong transformasi struktural.
Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, salah satu kunci menggenjot pertumbuhan ekonomi 6 persen per tahun adalah dengan peningkatan produktivitas.
Kendati demikian, tingkat produktivitas ekonomi Indonesia masih rendah dibandingkan negara lain di kawasan ASEAN.
“Pertumbuhan di lima persen tidak cukup bagi Indonesia untuk menjadi negara dengan pendapatan perkapita yang tinggi,” kata dia di webinar internasional: Building A Good-Jobs Economy Through Productivity-Led Structural Transformation, Selasa (11/1).
Baca juga: Prospek Filantropi Islam pada 2022 Diprediksi Semakin Cerah
Selain itu, lanjut dia, Indonesia juga perlu menemukan sumber daya dan sektor yang mampu mendukung pertumbuhan produktivitas ekonomi.
Namun, saat ini tantangan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi cukup besar. Amalia menyoroti, industrialisasi yang kerap menjadi motor utama pertumbuhan, kinj semakin loyo dalam mendorong transformasi struktural.