LANGIT7.ID, Jakarta - Prospek dunia filantropi Islam pada 2022 diprediksi akan cerah. Peningkatan ini sejalan dengan prospek ekonomi yang lebih baik dan semakin meningkatnya kualitas layanan dan transparansi.
Dilansir Brief Outlook Ekonomi Syariah 2022 oleh Center of Reform on Economics (Core Indonesia), sejumlah indikator filantropi Islam terus mengalami pertumbuhan meski ekonomi melambat selama pandemi.
Perkembangan kegiatan filantropi di Indonesia dalam dua tahun terakhir tetap tumbuh meskipun terjadi perlambatan ekonomi akibat pandemi. Perkembangan pengumpulan zakat pada tahun 2021 diperkirakan masih tumbuh marginal, sejalan dengan belum pulihnya kondisi ekonomi nasional.
Baca Juga: Komunitas Ojol Matraman Bantu Warga Terdampak Erupsi Semeru Lewat BAZNAS“Sehingga potensi zakat yang dapat dikumpulkan juga masih tumbuh marginal. Namun pada tahun mendatang pertumbuhan potensi zakat akan tumbuh lebih tinggi,” dikutip keterangan pers, Selasa (11/1/2022).
Di sisi lain, lembaga-lembaga filantropi non pemerintah yang secara khusus menghimpun dan menyalurkan ziswaf diperkirakan akan terus tumbuh. Hal itu sejalan dengan masih besarnya potensi zakat yang dapat digali.
Berdasarkan data Baznas, realisasi pengumpulan zakat pada tahun 2019 mencapai Rp10 triliun, atau 3,1 persen dari total potensinya yang mencapai Rp 327,6 triliun. Kemudian, perkembangan platform digital fundraising ataupun crowdfunding mampu memperluas dan meningkatkan partisipasi masyarakat. Di samping prosesnya lebih cepat dan lebih mudah, tingkat transparansi dan akuntabilitasnya memungkinkan untuk lebih baik.
Baca Juga: BAZNAS Tandatangani MoU dengan UMJ Perkuat Keilmuan ZakatApalagi, sebagian besar pengguna platform digital saat ini adalah kelas menengah, yang menurut studi Credit Suisse mengalami kenaikan pada tahun 2020, ketika Indonesia mengalami puncak pandemi. Potensi pengembangan layanan digital masih sangat besar untuk dieksplorasi, khusnya bagai bagi lembaga Lembaga Amil Zakat (LAZ).
Merujuk studi Forum Organisasi Zakat (FOZ) dan Filantropi Indonesia, meskipun LAZ telah siap untuk melakukan transformasi digital, namun sebagian besar dalam bentuk layanan web (93 persen) dan kanal sosial (99 persen), sementara dalam bentuk platform crowdfunding masih sangat rendah (17,3 persen).
Baca Juga: Jaga Usaha, Program Kemenkop UKM dan Baznas Bangkitkan Sektor UMKMPadahal, potensi penggalawan dana lewat model ini sangat digemari. Salah satu platform digital yang cukup masif belakangan ini dalam menggalang dana dalam bentuk crowdfunding untuk kegiatan sosial adalah adalah Yayasan Kita Bisa. Pada tahun 2020, yayasan itu mampu menghimpun penerimaan Rp871,9 miliar, naik 73 persen dibandingkan tahun 2019 yang mencapai Rp 502,4 miliar.
Penggunaan platform digital juga telah dimanfaatkan oleh berbagai lembaga filantropi lainnya, seperti Dompet Dhuafa dan Baznas yang telah mengembangkan berbagai aplikasi digital untuk mempermudah pembayaran donasi.
Alhasil, prospek penghimpunan dan penyaluran dana filantropi pada tahun 2022 akan semakin besar, sejalan dengan prospek ekonomi yang lebih baik dan semakin meningkatnya kualitas layanan dan transparansi lembaga-lembaga tersebut.
Baca Juga: Pelatih Persija Beberkan Penyebab Kekalahan dari Persipura(zhd)