Mardani Maming, Bendahara Umum PBNU Pencinta Syiar Islam
Mahmuda attar
Kamis, 13 Januari 2022 - 12:00 WIB
Bendahara Umum PBNU terpilih, Mardani Maming (Foto: instagram/@mardanimaming)
Mardani H Maming resmi menjabat Bendahara Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Bendum PBNU) periode 2022-2027.
Jabatan itu dipegangnya atas penunjukan Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, saat mengumumkan kepengurusan periode 2022-2027, Rabu (12/1) lalu.
Lantas siapa sebenarnya sosok Mardani H Maming?
Muslim kelahiran Batulicin, 17 September 1981 itu dikenal sebagai pengusaha muda yang cukup sukses. Dia menjabat sebagai komisaris di PT Batulicin Enam Sembilan, perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batubara.
Kiprahnya di dunia usaha, membuatnya dipercaya memimpin Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) periode 2019-2022.
Selain di dunia bisnis, mantan Bupati Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan dua periode itu juga pernah menjadi mantan anggota DPRD Fraksi PDIP Kabupaten Tanah Bumbu 2009-2010.
Dilansir Antara, Mardani juga memiliki kecintaan terhadap syiar Islam. Dia menilai keberadaan para ulama dan ustadz lokal sangat penting bagi pengembangan syiar Islam dan kehidupan keagamaan bagi masyarakat, termasuk di Tanah Bambu.
Jabatan itu dipegangnya atas penunjukan Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, saat mengumumkan kepengurusan periode 2022-2027, Rabu (12/1) lalu.
Lantas siapa sebenarnya sosok Mardani H Maming?
Muslim kelahiran Batulicin, 17 September 1981 itu dikenal sebagai pengusaha muda yang cukup sukses. Dia menjabat sebagai komisaris di PT Batulicin Enam Sembilan, perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batubara.
Kiprahnya di dunia usaha, membuatnya dipercaya memimpin Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) periode 2019-2022.
Selain di dunia bisnis, mantan Bupati Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan dua periode itu juga pernah menjadi mantan anggota DPRD Fraksi PDIP Kabupaten Tanah Bumbu 2009-2010.
Dilansir Antara, Mardani juga memiliki kecintaan terhadap syiar Islam. Dia menilai keberadaan para ulama dan ustadz lokal sangat penting bagi pengembangan syiar Islam dan kehidupan keagamaan bagi masyarakat, termasuk di Tanah Bambu.