Langit7, Jakarta - Pemerintah merasa perlu membekali masyarakat untuk mengetahui cara kerja internet yang menjadi bagian ruang realitasnya. Hal itu dilakukan demi meningkatkan literasi digital masyarakat.
Di mana realitas manusia dalam hal ini bukan lagi ruang fisik, melainkan ruang hyperconnected antara ruang fisik dan digital. Dengan bekal pengetahuan, diharapkan masyarakat dapat memberdayakan dirinya sendiri terkait mengakses internet demi kebutuhan positif.
Baca juga: Peningkatan Jumlah Pengguna Internet Indonesia Tidak Dibarengi Kecakapan DigitalApalagi, saat ini Indonesia sedang memasuki era percepatan digital. Di mana hampir seluruh kegiatan masyarakat terintegrasi di ruang digital dan teknlogi yang menyertainya.
"Penguatan kapasitas literasi digital masyarakat menjadi penting dan mendesak untuk dilakukan, agar tingginya penetrasi teknologi dapat dimanfaatkan masyarakat secara bijak dan tepat guna," kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Semuel Abrijani Pangerapan, saat Peluncuran Survei Literasi Digital Indonesia 2021, Kamis (20/1).
Pihaknya juga telah menginisiasi dan melaksanakan program literasi digital nasional di 514 Kabupaten/Kota sepanjang 2021. Program itu berisi pelatihan teknologi dan literasi digital yang bertujuan membekali masyarakat dengan pengetahuan bekal teknologi baru.
Baca juga: Heboh Jaringan 5G Ganggu Penerbangan di AS, Ini Penjelasan KominfoAdapun kurikulum yang ada di dalam program tersebut, di antaranya kecakapan digital, beretika digital, aman di ruang digital, dan berbudaya digital.
"Berbudaya digital itu yang penting untuk diantisipasi, karena sudah terlihat bahwa masyarakat kita punya split personality," katanya.
Di ruang fisik, lanjut Semuel, budaya dan norma masyarakat digunakan dalam interaksi. Namun ketika masuk ke ruang digital, masyarakat seolah menjadi orang baru.
"Ini bahaya, maka kita ingatkan bahwa ruang digital itu extended reality manusia," jelasnya.
Baca juga: Sosialisasikan Presidensi G20 ke Masyarakat, Kominfo Gandeng E-CommerceUntuk itu, pihaknya juga melakukan evaluasi, monitoring, dan mengukur indeks literasi digital masyarakat setiap tahun. "Hal ini dilakukan demi memetakan kemampuan sekaligus menjadi alat ukur literasi digital di Indonesia," katanya.
Dari survey itu terungkap bahwa status literasi digital di Indonesia menempati level sedang. Atau indeks 3,49 dari skala 1-5. Angka ini naik dari survey yang dilakukan pada 2020.
"Saya harap hasil survey status literasi digital ini dapat menjadi fondasi kuat bagi perencanaan pengambilan keputusan terkait literasi digital 2022 dan menjadi sumber informasi bagi masyarakat," katanya.
(zul)