LANGIT7.ID - , Jakarta - Setiap calon ibu mempunyai harapan bayi dalam kandungannya terlahir dalam kondisi sehat. Karena itu, mayoritas calon ibu mengubah gaya hidup jadi lebih baik di masa kehamilan karena mempertimbangkan kondisi kandungannya. Salah satu caranya adalah dengan melakukan perbaikan gizi.
Kebiasaan ibu yang baru mulai menjaga kesehatannya dengan makan makanan bernutrisi setelah dia tahu dirinya hamil inilah yang kurang tepat.
Dokter spesialis kebidanan dan kandungan RSU Tangerang dr. Dhika Prabu Armadhanu mengatakan agar tidak ada gangguan selama kehamilan, calon ibu harusnya sudah memastikan asupan nutrisinya tercukupi sejak sebelum hamil.
Baca juga: Menunda Kehamilan dan Menjaga Kesehatan Ibu Hamil Selama PandemiNamun sayangnya, masih banyak ibu yang tidak menyadari dirinya sedang kekurangan nutrisi penting yang sebenarnya dibutuhkan untuk perkembangan bayi di dalam kandungan.
Salah satu cara mengenali ibu hamil mengalami defisiensi nutrisi adalah ketika berat badannya tidak bertambah, bahkan mengalami penurunan, sedangkan janin bertambah berat.
Ibu hamil yang mengalami kurang gizi tidak hanya berisiko mengalami anemia atau preeklamsia, tetapi defisiensi nutrisi juga memengaruhi pertumbuhan bayi. Ibu berisiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah, melahirkan bayi prematur, dan juga menimbulkan risiko anak mengalami stunting.
“Kehamilan bagus itu juga tergantung terhadap plasentanya. Kalau plasenta ibu hamil bagus, pastinya kehamilan pun bagus. Supaya plasenta dalam kondisi baik ketika kehamilan, perlu perencanaan kehamilan sebelum pernikahan." kata dr. Prabu dalam keterangannya.
Plasenta atau ari ari bayi adalah organ yang berkembang di area rahim selama kehamilan, dan menempel di area atas, samping, depan, dan belakang rahim yang bermanfaat untuk memberikan nutrisi dan oksigen untuk bayi selama di dalam kandungan. Melalui plasenta juga, bayi membuang zat yang tidak diperlukan seperti karbondioksida.
"Plasenta ibaratnya kontraktor dalam pembangunan rumah. Misalnya, ibu membuat rumah mulai dari nol. Di situ, ibu menggunakan bahan-bahan baku yang terbaik. Namun ketika jadi, rumahnya bermasalah. Ternyata kontraktor yang disewa tidak baik. Nah, kontraktor itu adalah plasentanya," kata dr. Prabu.
Lalu, apa yang bisa dilakukan ibu hamil untuk mencegah defisiensi gizi sehingga calon bayi bisa tumbuh secara optimal?
Baca juga: Cegah Stunting, Kemenag Perkuat Kerja Sama dengan BRIN dan BKKBNdr Prabu menjelaskan paling tidak tiga bulan sebelum pernikahan, pasangan harus mulai merencanakannya. Perencanaan tersebut agar calon ibu bisa mendapatkan cukup nutrisi dan siap menjalani kehamilan. Apabila kebutuhan nutrisi telah tercukupi sejak sebelum hamil, ibu dapat lebih tenang dalam menjalani proses kehamilan sekaligus mempersiapkan kelahiran bayi.
(est)