LANGIT7.ID, Jakarta - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud-Ristek), Nadiem Anwar Makarim, mengaku sudah 2 tahun lebih tidak membuka media sosial. Ia memutuskan keluar dari dunia medsos untuk menjaga kesehatan mental.
"Medsos itu sebaik penggunanya, dan seburuk penggunanya. Harus ada kesadaran di masyarakat bahwa sosmed itu ada konsekuensinya terhadap kesehatan mental," kata Nadiem melalui kanal Deddy Corbuzier, dikutip Sabtu (5/2/2022).
Medsos menimbulkan kecanduan. Itu yang tak banyak disadari masyarakat saat ini. Padahal, kecanduan itu memiliki dampak terhadap kesehatan mental seseorang. Memang, dampak medsos tidak bisa dipahami jika tidak berhenti dari ruang maya itu.
"Puasa medsos itu sangat penting untuk mengetahui apa dampaknya. Saya hampir 2,5 tahun puasa medsos, bukan puasa lagi tapi setop medsos. Sejak saya puasa sosmed hubungan saya dengan teman menjadi lebih dalam, karena kalau kangen atau
pengen nongkrong langsung telepon," tutur Nadiem.
Pertama kali memutuskan puasa medsos, Nadiem sempat merasa sedikit lepas koneksi dari teman-temannya. Namun lama-kelamaan ia bisa mendapatkan pertemanan yang memiliki
value sangat kuat.
Ia meningkatkan kualitas pertemanan sejak puasa medsos. Sejak saat itu, ia merasa lebih kalem, lebih percaya diri dengan keputusan-keputusannya, bisa lebih fokus dengan pekerjaan dan keluarga, serta merasa lebih
secured.
"Jadi, tidak merasa bahwa semua harus kita pajang. Masalahnya kalau di medsos itu reaksinya kalau nggak positif pasti negatif. Jadi kayak polarisasi yang terjadi pada
social network kita dan masyarakat luas," ucap Nadiem.
Kendati begitu, Nadiem tidak melarang jika seseorang ingin berselancar di mediamedia sosial. Ia hanya menekankan agar setiap pengguna media sosial menyadari dampak medsos itu sendiri. Salah satunya dampak kecanduan.
Kecanduan itu harus di-
managed. Ini yang menjadi masalah, karena banyak masyarakat yang tidak sadar jika medsos menimbulkan kecanduan. Padahal, kecanduan medsos itu
real dan menimbulkan perasaan
loneliness. Kecanduan itu juga berdampak besar pada kesehatan mental.
"Dulu, saya senang posting, tapi sebelum posting mikirnya sampai satu jam. Dari situ kita membuat
engineer itu posting biar pas sesuai dengan yang kita inginkan orang melihat kita. Proses untuk mem-
framing diri kita itu menurut saya tidak sehat," ucap Nadiem.
Hal paling penting, kata Nadiem, seseorang harus memiliki keberanian menjadi diri sendiri. Keberanian ini sulit didapatkan di dalam ekosistem media sosial. "Karena, partisipasi yang ada ada di medsos menyebabkan kita melatih diri kita tidak menjadi diri sendiri," ucap Nadiem.
(jqf)