LANGIT7.ID - , Jakarta - Memulai sebuah bisnis bukan hal mudah, ada banyak hal yang perlu dipersiapkan agar bisnis Anda tidak berhenti atau bangkrut di tengah jalan.
Founder Klinik Spesialis Bedah Metro Kuningan Kuliner SDP Group (Tasty Donuts dan Liwet SiDemplon), dr Asep Hermana, SpB, FInaCS MM mengatakan motivasi membuat sebuah usaha bukan hanya semangat kosong belaka. Tetapi juga harus dibekali ilmu yang mumpuni, karena jika tidak ia akan menjadi penyebab kegagalan terbesar.
"Motivasi kosong, artinya minim akan ilmu, minim perencanaan, hanya gelora sebuah semangat yang sangat besar. Hal tersebut akan menimbulkan
overconfidence," kata dr Asep Hermana dalam Webinar bertajuk Bahaya
Overconfidence dalam Bisnis, Rabu (16/2/2022).
Baca juga: Bisnis Fesyen Bangkrut, Muslimah Ini Sukses Lewat Gabin TapeMenurut dr Asep,
overconfidence berarti ia merasa yakin, sangat percaya bisnis yang di jalani itu tingkat keberhasilannya tinggi. Namun, terlalu percaya diri juga bisa menghambat keberhasilan sebuah bisnis.
"Jeleknya
overconfidence adalah tidak mengindahkan ketika ada tinjauan dari sudut lain atau dari
angel yang lain. Misal uji bahan, kira-kira yang cocok untuk produk kita bahan A dan itu masukkan dari pegawai, tetapi kita kekeh untuk menggunakan produk B akhirnya setelah diproduksi hasilnya tidak sesuai yang diinginkan. Siapa yang mau disalahkan akan hal ini?," tutur dokter bedah ini.
dr Asep lalu menceritakan, bahwa dirinya pernah memiliki banyak bisnis yang gagal gara-gara
overconfidence, salah satunya bisnis studio foto.
"Saya bikin studio foto digital pada tahun 2002, karena saat itu belum banyak. Ini juga sama prosesnya
take action yakni mengambil tindakan dulu atau bergerak dulu baru urusan yang lain menyusul," cerita dr Asep.
Ia melanjutkan, karena sedang
booming digital pada tahun 2002 dan masih dikatakan baru. Kamera
handphone belum ada, yang bisa diandalkan hanya kamera digital dan itupun jumlahnya terbatas.
"Nah pertama kali didirikan, studio saya itu
booming, ramai pelanggan mulia dari anak sekolah hingga
wedding. Sampai-sampai kita keteteran orderan. Nah lagi-lagi
overconfidence, saya tidak mempedulikan pencahayaan fotonya dan kemiringan, yang saya tahu hanya jepret saja nanti bisa diedit di
photoshop. Akhirnya setelah di
Photoshop hal tersebut tidak sesuai ekspektasi. Jadi karena
overconfidence ini akhirnya merusak usaha saya," katanya.
Meskipun begitu, kegagalan yang dimiliki Asep tak membuatnya patah semangat. Terbukti kini banyak bisnisnya yang telah berkembang pesat seperti klinik-klinik kecantikan maupun kesehatan.
Lantas, bagaimana seharusnya cara yang tepat ketika membangun sebuah bisnis?
Asep mengatakan ada empat cara dalam membangun bisnis yang baik dan benar. Pertama, dalam sebuah bisnis membuat perencanaan secara matang itu adalah sesuatu yang mutlak.
"Ketika membuat rencana itu, kita harus membuatnya sebagus mungkin. Bikin
planning sebagus mungkin dan melibatkan ahlinya. Karena seorang ahli di bidang tersebut mungkin
experience-nya memiliki waktu yang panjang. Misal seorang ahli desain mungkin dia telah belajar belasan tahun tentang desain dan lainnya. Perencanaan itu penting, dia memegang 80 persen dari keberhasilan suatu usaha," ucapnya.
Kedua,
trial market atau uji coba produk pada pasar. Jadi
trial market itu sangat penting, untuk mengetahui apakah produk tersebut memiliki peminat atau tidak dan lainnya.
"Kita bisa tahu posisi produk itu dimana, kemudian arah pasar yang kita ambil itu dimana. Lalu
market error kita kira-kita dimana dan apakah barang yang kita produksi itu memiliki ketidak sempurnaan atau tidak. Sehingga kita bisa melakukan perbaikan. Andai kata rugi, pasti tidak akan dalam jumlah yang besar,"imbuhnya.
Baca juga: Gelar Konsorsium, Sinergi Kampus Muhammadiyah Dorong Inovasi Produk Bisnis Berbasis TeknologiKetiga adalah ilmu. Ilmu dari para manajernya, pengelola termasuk juga dari
owner. Ilmu itu penting agar kita dapat mengambil keputusan dengan tepat.
Keempat, berserah kepada sang Khalik. Masa depan tidak ada yang tahu, apa yang direncanakan tentu akan meleset meskipun sedikit. Maka itu, Anda harus dekat dengan yang Maha Tahu, sehingga segalanya diberikan ke arah yang benar.
"Nah, keempat hal ini yang tidak ada pada bisnis saya yang gagal itu," tutupnya.
(est)