LANGIT7.ID, Semarang - Masjid Soko Wali Hasan Munadi yang berada RT 01 RW 1 Kelurahan Nongkosawit, Gunungpati, Kota Semarang dikenal warga setempat karena memiliki keunikan.
Selain hanya memiliki luas 10x7 meter, masjid yang baru dibangun pada September 2021 ini menyimpan sisi historis.
Daya tarik masjid tersebut yakni
soko atau tiang penyangga masjid ini merupakan peninggalan Waliyullah Syekh Hasan Munadi, yang hidup sekitar tahun 1400-an Masehi.
Hasan Munadi adalah putra dari Brawijaya V, saudara sebapak dengan Raden Patah, Raja di Kesultanan Demak. Mbah Hasan Munadi merupakan murid Sunan Bonang.
Baca juga: Ini 3 Masjid dengan Arsitektur Unik di Kota SemarangMbah Hasan Munadi dulu pernah syiar Islam di Nongkosawit. Tetapi, petilasan atau makamnya berada di Nyatnyono, Kabupaten Semarang, bersama anaknya Hasan Dipuro.
Di Nongkosawit, Mbah Hasan Munadi meninggalkan empat soko atau tiang, beduk dan bende (kentongan).
Empat sokonya, saat ini digunakan untuk membangun Masjid Soko Wali Hasan Munadi. Dibangun di atas tanah warga yang telah diwakafkan.
Masjid ini didesain dengan gaya klasik dan modern. Dindingnya menggunakan bata ekspose dan namun lantainya sudah modern, berbahan granit.
“Ini bisa digunakan untuk destinasi wisata religi. Karena apa? ada bukti sejarah. Ada 4 soko wali yang masih berdiri dan ini bisa diteliti. Saya sudah mengajukan untuk ditetapkan menjadi cagar budaya. Tapi sampai 2 bulan ini belum ada kabar,” ungkap Nasikin, dalam sambutannya di acara nyadran, Kamis (17/2/2022).
Baca juga: Peresmian Masjid Jami Al Qodar, Murni Hasil Swadaya MasyarakatNasikin tidak mempermasalakan apakah itu nanti termasuk dalam kategori benda cagar budaya Tipe A, B dan C. Terpenting, masjid ini bisa jadi cagar budaya, sehingga lebih menguatkan sejarah yang ada di Nongkosawit.
“Dan ini sesuai cita-cita kita semua. Bisa digunakan untuk tempat ibadah,” tuturnya.
Nasikin berharap semoga suatu ketika nanti jika punya dana bisa untuk membeli sebagian tanah yang akan digunakan untuk serambi dan bisa digunakan untuk tempat wudhu. Saat ini setiap jamaah Magrib, Isya dan dan Subuh sudah penuh. Tidak bisa menampung jamaah karena memang ukurannya yang kecil.
“Sudah dilaksanakan taklim pembelajaran kangge lare-lare (buat anak-anak). Kekurangan area buat tempat wudhu dan serambi. Semoga suatu ketika nanti masjid soko wali, dengan takmir dan pengurusnya bisa membeli tanah yang bisa digunakan untuk serambi dan tempat wudhu,” katanya.
(sof)