LANGIT7.ID - , Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan adanya ancaman lanjutan usai guncangan gempa magnitudo 6.2 yang terjadi Jumat, (26/2) di Pasaman, Jawa Barat.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan, bukan lagi gempa susulan, ancaman yang dimaksud adalah potensi bencana hidrometeorologi, berupa longsor, banjir, dan banjir bandang di area hulu sungai lereng Gunung Talamau.
"Gempa susulan jauh melandai, kewaspadaan masyarakat harus bergeser. Akibat dari masih berlangsungnya musim penghujan, teridentifikasi luapan banjir sedimen mencapai radius kurang lebih 200 meter dari tepi sungai, apabila hujan turun di lereng Gunung Talamau," ujarnya, dalam keterangan resmi, Selasa (1/3/2022).
Baca juga: Analisis BMKG soal Gempa Pasaman Barat, Terasa hingga Malaysia dan SingapuraDwikorta menuturkan, situasi bencana pascagempa diperkirakan akan berlangsung hingga April 2022, selama musim penghujan masih berlangsung.
"Situasi ini diperkirakan akan berlangsung pada Maret hingga April 2022, warga harus waspada," tuturnya.
Lebih lanjut, Dwikorta menegaskan, warga harus menjauhi zona sekitar sungai untuk menghindari risiko berbahaya akibat banjir.
"Bagi warga bermukim dan beraktivitas di sepanjang aliran sungai yang mengalir dari lereng atas Gunung Talamau diimbau untuk menghindari zona dalam radius 200 meter dari tepi sungai," ucapnya.
BMKG bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan upaya mitigasi guna mereduksi dampak jika sewaktu-waktu bencana hidrometeorologi menerjang.
Pencegahan dilakukan BMKG dengan terus memonitor cuaca dan intensitas hujan. BWS PUPR melakukan pengerukan sedimen lumpur atau material longsoran yang terjadi akibat gempa dan tersapu oleh hujan atau aliran sungai dengan menggunakan alat berat, agar aliran air tidak meluap ke pemukiman warga.
Baca juga: BMKG: Waspada Potensi Fenomena Hujan Es Kembali Terjadi di Maret-April 2022Dwikorta menyebut, BMKG secara lebih intensif melakukan monitoring cuaca menggunakan Radar Cuaca, serta memberikan prakiraan dan peringatan dini potensi cuaca ekstrem di area hulu sungai lereng Gunung Talamau.
"Kami melakukan identifikasi zona bahaya di sempadan sungai dan sempadan lereng, guna imbauan terhadap masyarakat terhadap kemungkinan bencana hidrometeorologi," kata Dwikorta.
(est)