LANGIT7.ID - , Jakarta - Berdakwah dalam Islam pada dasarnya untuk mengajak orang lain untuk menjadi lebih baik dari diri yang sebelumnya. Karena itu, hendaknya proses dakwah dilakukan dengan cara yang baik serta memanusiakan manusia.
"Sahabat Nabi SAW yaitu Muadz bin Jabal ketika mau ke Yaman, ia menemui Nabi SAW untuk meminta saran apa yang harus dilakukannya ketika di Yaman untuk berdakwah. Salah satunya kata Nabi, dakwah itu pertama gembirakanlah jangan takut-takuti orang," kata pendakwah millenial dan penulis, Habib Husein Ja'far Al Hadar dalam acara yang diadakan di Mojokerto, Selasa (1/3/2022).
Jika ada pendakwah, tambah Habib Ja'far, yang kerjanya menakuti, Anda berhak menolak dia. Menolak mendengarkannya atas nama Nabi Muhammad SAW.
Baca juga: Kemenag Dorong Dewan Dakwah Hidupkan Kembali Gagasan Pak Natsir"Kedua, kata Nabi SAW, persatukan jangan cerai-beraikan. Maka, kalau ada tokoh agama yang pidatonya mencerai-beraikan, mengajarkan orang benci sana, benci sini, Anda berhak tidak mendengarnya atas nama Nabi Muhammad SAW," tuturnya.
Habib Ja'far melanjutkan pesan Nabi SAW selanjutnya dalam berdakwah adalah mempermudah jangan mempersulit. Agama itu mempermudah hal-hal yang sulit.
"Agama itu mempermudah, tidak bisa shalat berdiri maka shalat duduk. Tidak bisa shalat duduk, maka shalat berbaring dan lainnya. Intinya karakter utama Islam itu mempermudah yang sulit," tegas Habib Ja'far.
Lebih lanjut, Habib Ja'far berkata terkait bagaimana mengadvokasi masuk surga dan tidak masuk surga di akhirat kelak, itu semua terserah Allah SWT.
"Firaun itukan sangat kuat tetapi bisa dihabisi oleh air, sedangkan Nabi Musa sangat lemah dan sangat baik, ketika diletakkan di air ia tetap selamat. Jadi Allah punya mekanismenya sendiri. Cuma yang menarik soal menunggu," ucapnya.
Menunggu itu adalah sesuatu hal yang paling tidak enak. Kata orang Arab, tutur Habib Ja'far, separuh dari azab itu adalah menunggu. Menunggu adalah siksaan bagi orang yang pahala dan dosanya setara dan itu nanti terjadi di akhirat.
Surat A'raf membahas tentang Ashabul A’raf kisah sekelompok orang yang berada di antara surga dan neraka.
Hal ini tertulis dalam surat al-A’raf tepatnya ayat ke 46;
وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى ٱلْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّۢا بِسِيمَىٰهُمْ ۚ وَنَادَوْا۟ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ
"Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya)."
Baca juga: Pesan Ustaz Syuhada Bahri: Selamatkan Indonesia dengan DakwahHabib Ja'far melanjutkan, nanti di akhirat ada bukit yang ditempati kaum Ashabul A'raf menunggu waktunya untuk masuk surga. Kaum Ashabul A'raf akan masuk surga setelah semua ahli surga masuk ke dalam surga.
"Setelah semua orang telah masuk surga baru giliran mereka, nah siksaan baginya adalah menunggu," ungkap Magister Tafsir Qur’an di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
"Mekanisme orang masuk surga itu, itu terserah Gusti Allah SWT. Karena kunci masuk surga dan tidak masuk surga itu Rahmat," tutupnya.
(est)