LANGIT7.ID - , Jakarta - Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo melantik 17 duta besar untuk sejumlah negara sahabat di Istana Negara, tepatnya pada Senin, 25 Oktober 2021. Pengangkatan ini tertuang dalam Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 127/P Tahun 2021 tentang Pengangkatan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia.
Salah satu yang dilantik pada saat itu adalah Ir Muhammad Najib, MSc. Pria kelahiran 1960 ini dilantik menjadi dubes untuk Kerajaan Spanyol sekaligus merangkap organisasi pariwisata dunia PBB.
Baca juga: Ustaz Syuhada Bahri, Ulama Besar Gemar Blusukan dan Suka TraktirJabatan ini membuat Muhammad Najib harus berpindah ke Spanyol dan menjalani kehidupan sebagai dubes salah satu negara Eropa Barat ini.
Sebagai seorang dubes, Najib mengaku kerap melakukan blusukan. Hal tersebut dilakukan Najib, karena sebagai dubes dirinya mendapat banyak fasilitas yang dianggapnya seperti tidak hidup di alam nyata. Untuk mengimbanginya, Najib pun kerap melakukan kunjungan tidak formal atau blusukan.
"Misal ketika ke kampus, biasanya jika dubes mau datang ada seremonial, diatur, pimpinan Universitas menyambut dan lainnya. Saya tidak mau melakukan itu, makanya saya ingin blusukan saja ke dosen-dosen langsung, ngobrol. Nanti akan terlihat mereka menyuguhkan apa, bagaimana cara mereka melayani, di samping itu terlihat mahasiswa-mahasiswa kehidupannya seperti apa," kata Najib dalam wawancara khusus bersama Langit7, Kamis (25/3/2022) lalu.
Baca juga: Spanyol Punya SDM Tersehat, Dubes RI: Indonesia harus BelajarBahkan, ayah empat anak ini mengaku, dirinya juga tidak segan untuk mengantar mahasiswa pulang ke asrama. Itu dilakukan Najib agar ia mengetahui bagaimana suasana asrama mereka.
"Nah, di situ nanti terlihat asramanya yang sederhana. Umumnya mahasiswa kita masak sendiri, karena kalau beli itu mahal sekali," ujarnya.
Najib menambahkan, jasa manusia di Negeri Matador sangatlah mahal. Karena itu untuk menghemat bujet, banyak yang memilih untuk melakukannya sendiri.
"Jasa manusia disini sangat mahal termasuk
laundry. Kalau di Indonesia
laundry-nya satu baju bisa dilakukan dengan harga sekitar Rp10.000 hingga Rp20.000, tapi kalau di Spanyol itu bisa Rp200.000 atau Rp300.000 per satu baju," ungkapnya.
"Bahkan jika berbicara jas bisa jadi biaya
laundry-nya lebih mahal dari harga jas. Dan yang pasti batik jika di laundry banyak yang menolak. Karena mereka menganggap ini barang khusus dan kalau toh menerima bisa di atas 1 juta, padahal harga batiknya tidak semahal itu,' lanjut dia.
Baca juga: Peran KBRI Spanyol Jadi Juru Bicara Islam Rahmatan Lil AlaminIntinya, Najib mengaku dirinya tidak terlalu merasakan perubahan ketika di Spanyol karena semuanya telah di atur dan dipersiapkan.
"Jadi kira-kira suasananya seperti itu, saya terus terang karena semuanya sudah ada yang ngatur dan ada yang menyiapkan. Makanya saya tidak terlalu terasa. Tapi yang pasti adik saya bilang wajah saya semakin muda di sini dan semakin segar," pungkasnya.
(est)