LANGIT7.ID, Jakarta - Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Spanyol, Dr Muhammad Najib, mengatakan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Spanyol mengambil peran penting untuk menyebarkan Islam
rahmatan lil-alamin.
Dr Muhammad Najib selaku duta besar aktif melakukan komunikasi dengan berbagai pihak di Spanyol. Mulai dari kampus hingga lembaga pemerintahan. Bahkan tak jarang, Najib
blusukan ke kampus-kampus di Spanyol langsung menemui dosen tanpa melalui protokoler.
Menurut Najib, Indonesia dipandang sebagai representasi Islam yang disukai di Spanyol sebab tak memiliki dosa sejarah masa lalu. Sehingga, Indonesia punya peran sebagai duta Islam yang
rahmatan lil alamin.
Peran tersebut bersamaan dengan fenomena baru yang muncul di tengah masyarakat Spanyol. Saat ini, kata Najib, orang Spanyol memiliki semangat memelihara dan menjaga warisan peradaban Islam di Andalus.
Dari segi peninggalan arsitektur, orang Spanyol mulai memelihara bangunan-bangunan peninggalan peradaban Islam itu. Salah satu tujuan dari semangat itu adalah pemantik wisatawan dari luar negeri, terutama umat Islam.
Baca juga: Masyarakat Spanyol Semakin Simpatik kepada IslamDemikian pula dari segi adab atau norma di tengah masyarakat. Rakyat Spanyol menyadari bahwa peperangan hanya merusak. Dalam bahasa diplomasi, dahulu peperangan hanya melahirkan
win-lose, artinya yang menang akan hidup, dan yang kalah akan mati.
Namun kini fenomena itu berubah, yakni
win-win, sama-sama diuntungkan. Dalam peradaban politik, pihak menang akan menjadi penguasa dan pihak kalah menjadi oposisi.“Paradigma ini yang saya jual sebagai dubes,” kata Najib saat wawancara khusus dengan
LANGIT7.ID, Kamis malam (24/3/2022).
Dia mengatakan, paradigma
win-win itu perlu dibangun dan dijaga untuk menghilangkan paradigma bahwa Islam itu agama keras. Najib ingin menyebarkan Islam rahmatan lil-alamin di Spanyol.
“Sekarang bukan zamannya pedang, tapi big data. Pedang sudah saatnya dimuseumkan. Sekarang saatnya kita bangun paradigma
renaissance of Islam,” ucap Najib.
Baca juga: Dubes RI untuk Spanyol: Islam itu Agama Paling Modern dan MajuNajib mengatakan, paradigma keunggulan itu penting dibangun. Orang Islam harus menguasai ilmu pengetahuan. Tidak perlu takut bernegosiasi dan berkompromi dengan orang lain. Hanya orang bodoh yang merasa khawatir, sebab orang bodoh takut pada bayangan sendiri.
“Kesadaran ini penting sekali dan memerlukan visi, negara Arab itu kaya tapi mengapa tidak melakukan itu? kalau kita bandingkan India yang lebih miskin, berhasil membuat Bangalore, orang India boleh kalah
hardware tapi (untuk pembuatan -red)
software jago. India dibanding Indonesia lebih miskin, tapi mereka mampu karena memiliki visi,” kata Najib.
(jqf)