LANGIT7.ID, Jakarta - Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis) menyayangkan agenda pemberantasan terorisme yang selalu menyasar umat Islam. Stigma buruk terhadap kelompok muslim juga diperparah dengan menguatnya islamophobia di sejumlah negara.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat dan Kelembagaan PP Persis, Tiar Anwar Bachtiar sepakat bahwa inisiatif agenda moderasi beragama perlu dikuatkan. Namun, di sisi lain, umat Islam juga perlu dilindungi dari tindakan diskriminatif.
“Saya setuju bahwa agenda moderasi sebagaimana yang sudah disampaikan dan yang sudah kita agendakan bersama dalam menampilkan wajah Islam ramah ini harus terus dilanjutkan,” katanya dalam Webinar Internasional
Turn Back Islamophobia yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabu (30/3/2022).
Baca Juga: Sambut Resolusi PBB, Syarikat Islam Akan Bentuk Gugus Tugas Anti Islamophobia
Meski demikian, lanjut Tiar, agenda moderasi beragama juga perlu dibarengi dengan inisiatif gerakan Turn Back Islamophobia. Gerakan ini, menurutnya, bukanlah antitesis terhadap gerakan Islam washatiyah, tapi sebagai bentuk perlindungan terhadap umat Islam khususnya di wilayah minoritas.
Tiar mencontohkan tragedi penembakan yang menimpa kelompok muslim minoritas di Selandia Baru. Tragedi yang terjadi di kota Christchurch menewaskan 51 jamaah shalat Jumat akibat adanya pandangan rasialisme dan motif kebencian terhadap Islam.
“Saya kira ini ekses yang harus ditutup, harus diminimalisir dan bila perlu dihindarkan. Terorisme tindakan kejahatan yang berbahaya bagi kemanusiaan, tapi ada orang yang bukan teroris dituduh menjadi teroris ini yang berbahaya. Inilah pentingnya agenda
Turn Back Islamophobia,” kata Tiar.
(jqf)