Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 02 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Begini Cara Mendidik Anak Tangguh Hadapi Masalah di Tengah Pandemi

Muhajirin Kamis, 29 Juli 2021 - 14:35 WIB
Begini Cara Mendidik Anak Tangguh Hadapi Masalah di Tengah Pandemi
ilustrasi anak tangguh (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID - Dalam fase tumbuh kembang anak, setiap orang tua pasti berharap anaknya kelak bisa menjadi anak yang tangguh dalam menghadapi setiap persoalan hidup. Ketika seseorang tumbuh dengan tangguh mampu menyelesaikan masalahnya, dia akan terlatih pula menyelesaikan masalah yang lebih luas kelak. Bahkan bukan tidak mungkin anak yang tangguh sejak dini, merupakan cikal bakal pemimpin yang baik di masa depan.

Psikolog Universitas Airlangga Dwi Retno Suminar menjelaskan tata cara mendidik anak agar menjadi tangguh dalam menghadapi berbagai macam masalah.

Dwi menjelaskan, ada dua faktor yang mempengaruhi anak berkembang yakni kematangan dan belajar. Faktor kematangan adalah faktor alamiah, bawaan, dan moment. Faktor belajar terdiri stimulasi dan ada fasilitas yang harus kita berikan kepada anak.

“Artinya, dari lingkungan anak belajar. Demikian juga kalau stimulasi kita negatif, stimulasi kita membuat anak lebih takut, menjadi tidak nyaman. Banyak hal yang kita pikir dilakukan untuk melindungi anak, tapi sebetulnya bukan, misalnya terlalu overprotektif kepada anak,” ucap Dwi dalam webinar Fakultas Psikologi Unair melalui akun Youtube, dikutip Kamis (29/7/2021).

Overprotektif hanya akan membuat anak tertekan. Anak akan merasa tidak nyaman, sebab tidak bebas dalam berekspresi. Maka orang tua harus berhati-hati dalam memberikan respon kepada anak. Dan menghadirkan situasi yang nyaman bagi tumbuh kembang anak.

Membentuk Anak Tangguh

Dwi mengatakan, mendidik anak menjadi tangguh adalah kewajiban bagi setiap orang tua. Anak tangguh adalah penakluk zaman, calon pemimpin masa depan.

“Anak tangguh itu seperti apa? Anak jangan terlalu dimanjakan, kemana-mana diantar, PR dikerjakan semua. Itu tidak membuat anak menjadi tangguh,” kata Dwi.

Sifat tangguh didefinisikan sebagai bentuk ketahanan dan semangat untuk mencapai tujuan jangka panjang. Tangguh dapat juga berupa ketekunan dan konsistensi minat individu untuk melakukan usaha optimal dalam rangka mencapai tujuan jangka panjang.

Orang tua harus mendidik anak mampu melewati setiap masalah. Misalnya mencegah penularan Covid-19. Orang tua harus bisa memberikan edukasi secara perlahan untuk menggunakan masker tiap kali keluar rumah. Edukasi itu harus disampaikan dengan lembut dan tidak mengandung bahasa yang membuat anak justru takut.

“Jangan sekali-kali membuat mereka takut, tapi berikan edukasi sampai anak sendiri yang sadar untuk melindungi diri sendiri. Anak terlalu dimanjakan juga tidak bagus,” ujar Dwi.

Membentuk anak tangguh di masa pandemi ini bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, faktor internal. Dalam hal ini orang tua harus mengetahui ketertarikan anak, tujuan anak dan harapan anak. Setelah itu, orang tua harus melatih anak menjadi tangguh berdasarkan tiga poin tersebut.

“Misalnya anak umur 2 tahun ketika mengambil sesuatu, mencari barang yang hilang, jangan langsung dibantu, biarkan dia mencoba menari lagi. Biarkan anak berinisiatif dan berusaha. Ada satu fase di mana anak itu harus tetap dilatih untuk tangguh,” ucap Dwi.

Kedua, membentuk budaya tangguh. Orang tua harus membuat budaya tangguh di dalam rumah. Misalnya membiasakan olahraga bersama. Saat pandemi berakhir, ada jadwal petualang alam liar, dan banyak hal yang bisa dilakukan. Intinya, anak tidak boleh terlalu dimanjakan, tapi harus selalu diberi kasih sayang.

Ketiga, orang tua harus mengenali ketangguhan anak. Poin ini memang harus dilihat dari usia, self help, dan ketangguhan. Usia ada timeline pada tiap perkembangan anak. Kemudian ajak untuk menyelesaikan semua masalah (problem solving). Problem solving ini harus disisipkan di semua aktivitas anak sehingga pada akhirnya mereka mampu melindungi diri sendiri.

Lambat laun anak akan mengenal ketangguhan dirinya sendiri. “Kalau sudah begitu akan muncul keyakinan, dari situ akan menumbuhkan adaptasi. Persiapan anak tangguh ini harus dipersiapkan sedini mungkin,” tutur Dwi.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 02 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)