LANGIT7.ID, Jakarta - Dokter dari Rumah Sakit Yasyfin Darussalam Gontor, dr. Fida Mushalim Afwan, menjelaskan, puasa merupakan sebuah instrumen kehidupan yang sebenarnya dibutuhkan oleh setiap manusia. Terlebih hal itu diwajibkan untuk umat Islam.
“Perintah puasa bertujuan sebagai sarana untuk mengantarkan manusia ke derajat taqwa dalam arti sesungguhnya,” kata dr. Fida melalui
Gontor TV, Senin (4/42022).
Puasa juga tidak bisa dipisahkan dari dimensi konsekuensi yang berupa amal shaleh. Ibadah puasa tidak dimaksudkan sebagai ritual pribadi semata dalam menahan diri dari makan, minum, dan lain sebagainya.
Baca juga: Agar Puasa Lancar, Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut Selama Ramadhan“Tetapi juga menjadi latihan pengendalian diri yang memiliki konsekuensi yang sangat penting, yaitu memunculkan kondisi psikolog berupa kesadaran diri yang berwujud komitmen sosial,” ucapnya.
Selain bermanfaat bagi kesehatan rohani dan jiwa, puasa juga memiliki banyak manfaat kesehatan secara fisik. Dengan berpuasa, orang akan lebih cenderung memiliki pola hidup yang lebih sehat. Makan jadi lebih teratur. Kemudian, diet menjadi lebih seimbang. Sehingga, kondisi fisiologis dan homeostasis pun bisa terjaga.
“Secara teknis, tubuh baru memasuki fase ‘puasa’ setelah 8 jam dari makan terakhir, yaitu saat usus selesai menyerap gizi dari makanan. Selanjutnya, tubuh akan mulai memecah cadangan makanan berupa glikogen dari hati dan otot,” ucap dr. Fida.
Jika glikogen telah habis, selanjutnya tubuh akan memecah lemak sebagai sumber energi. Proses metabolisme lemak dalam keadaan puasa justru bermanfaat bagi tubuh, karena dapat membantu menurunkan berat badan dan kolesterol darah.
Penurunan berat badan yang sehat dapat mengontrol diabetes dan menurunkan tekanan darah. Sementara itu, kolesterol yang terkontrol dapat menurunkan risiko sindrom metabolik. Ini merupakan kumpulan kondisi yang meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke.
Baca juga: Food Combining, Perhatikan Hal Ini di Menu Sahur dan Buka PuasaManfaat lain dari berpuasa adalah sebagai pemicu detoksifikasi atau pengeluaran racun-racun dalam tubuh. Sebuah jurnal ilmiah internasional dari Plos One menunjukkan, pembatasan asupan makanan kalori saat berpuasa ternyata membantu proses tersebut.
Hasilnya, tubuh mampu membuang zat limbah dan racun dengan cara yang sehat. Kemudian, setelah beberapa hari berpuasa tubuh juga akan memproduksi hormon endorphine, yaitu hormon yang menjadikan diri kita merasa lebih senang dan bahagia serta menghilangkan stres.
“Jadi, kesimpulannya berpuasa akan menyehatkan fisik dan mental,” tutur dr. Fida.
(jqf)