LANGIT7.ID, Yogyakarta - Istilah klitih ramai menjadi perbincangan warganet. Aksi kekerasan yang lagi
viral ini sama halnya dengan bagal, namun dilakukan oleh komplotan geng motor.
Klitih berasal dari bahasa Jawa yang berarti suatu aktivitas mencari angin di luar rumah atau keluyuran. Namun hal ini identik dengan aksi kekerasan geng motor.
Para pelaku klitih merupakan anak-anak usia sekolah atau remaja, berkisar 14-19 tahun. Incaran mereka tak lain merupakan remaja seumurannya, diduga anggota geng motor lainnya.
Baca Juga: Klitih Makin Menghawatirkan, Pemkab Sleman Minta Patroli Malam DitingkatkanBerikut 5 fakta soal klitih di Jogja yang lagi viral di media sosial:
1. Sama dengan BegalKlitih sama halnya dengan begal. Sebab pelakunya kerap menggunakan senjata tajam untuk mengania korban. Tidak jarang juga aksi ini disertai dengan perampokan barang-barang milik korban.
2. Klitih Bermakna PositifKlitih awalnya bermakna positif, yakni mengisi waktu luang atau jalan-jalan. Sosiolog UGM, Surapto mengatakan, klitih menjadi negatif begitu para geng motor ini melakukan aksi kekerasa di jalan tanpa motif yang jelas.
3. Makin MengkhawatirkanSatpol PP bersama kepolisian dan instansi terkait akan meningkatkan patroli di area yang disinyalir rawan kejahatan jalanan. Selain itu juga akan memanfaatkan pemantauan CCTV yang tersebar di beberapa lokasi.
4. Korban TewasSeorang pelajar tewas akibat aksi klitih. Korban atas nama Daffa Adzin Albazith (17) merupakan anak dari anggota DPRD Kebumen. Saat kejadian berlangsung Daffa sedang mencari makan di Jalan Gedongkuning daerah Kotagede, Ahad (3/4/2022).
5. Ramai di MedsosMedia sosial ramai membicarakan kasus klitih yang terjadi di Yogyakarta. Banyak pelajar dan mahasiswa yang merupakan warga pendatang meminta keamanan kepada kepolisian dan pemerintah daerah setempat.
(bal)