LANGIT7.ID - , Jakarta - Mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri menjadi impian sebagian orang. Sebab, tak hanya mendapatkan ilmu, sekolah di luar negeri juga menambah pengalaman baru.
Penerima beasiswa Kemendikud program S2 jurusan Religious Studies di Hartford International University, Amerika Serikat (USA) dan juga penerima beasiswa dari Profesor untuk program S3 jurusan Philosophy of Religion di Dublin City University, Ireland, United Kingdom (UK) Gugun Gumilar membagikan empat tips mendapatkan beasiswa.
Baca juga: Segera Daftar, Kominfo Buka Program Beasiswa S2 Bidang TIKPertama, harus luruskan niat. Karena dalam agama itu semua amalan yang dilakukan tergantung niatnya.
"Kalau di barat itu capek ya, sangat banyak teman-teman kita yang tidak lulus, banyak yang berhenti di tengah jalan dan banyak yang gagal juga. Makanya, saya mewanti-wanti ke teman-teman di Indonesia, pertama luruskan niat," ungkap Gugun kepada Langit7, beberapa waktu lalu.
"Saya S2 di Amerika dengan beasiswa Kemendikbud, kemudian S3 di Inggris dapat beasiswa dari profesor. Jika Anda ingin seperti ini juga maka harus luruskan niat, ibadah," lanjut dia.
Gugun melanjutkan, Allah SWT memberikan jalan untuk kuliah ataupun belajar sama dengan mencari jalan surga. Karena itu, niat yang lurus adalah utama.
"Niatnya jangan untuk mencari gelar, gengsi-gengsian atau alasannya lainnya. Jadi luruskan niat untuk ibadah kepada Allah SWT," kata Gugun.
Selanjutnya adalah kerja keras. Sebab, jika tidak didukung dengan kerja keras, maka akan sulit menjalani kehidupan di negeri orang.
Baca juga: "Kedua, harus kerja keras, kita ini kan bangsa yang leha-leha. Jadi harus bekerja keras dengan dosen, harus mampu bersaing dengan orang luar negeri dan lainnya. Ingat, tanpa kerja keras kita akan ditinggalkan. Intinya akan susah hidup di negara orang nantinya," ucapnya.
Perbedaan budaya, bahasa, suku maupun agama yang dimiliki tentu akan membuat kaget. Nah,
culture shock ini harus dibiasakan, dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Gugun, saat memutuskan untuk bersekolah di luar negeri, perbedaan ini harus diterima dan dihadapi dengan segala risikonya. Karena itu, Gugun berpesan bagi pencari beasiswa untuk menyiapkan diri menjadi pribadi yang fleksibel.
"Fleksibel dengan lingkungan, keadaan, apalagi dengan cuaca yang berbeda, tetangga berbeda bahkan tidak memiliki keluarga," kata Direktur Institute of Democracy and Education (IDE) ini.
"Nah, ini tantangan tersendiri untuk
culture shocknya," ujar Gugun.
Kemudian, disiplin. Seperti diketahui orang Indonesia dikenal tidak disiplin, dan negara barat terkenal dengan kedisiplinan yang dimiliki.
"Makanya kebiasaan di Indonesia jangan dibawa, ketika di luar negeri," ucapnya.
Baca juga: Kemenkominfo Buka 200 Beasiswa S2 di Dalam dan Luar NegeriJadi, simpulnya luruskan niat, kerja keras hadapi culture shock dengan fleksibilitas dan disiplin.
"Keempat ini yang saya bangun dan terapkan," tutur Gugun.
"Di luar negeri itu, malam jadi siang, siang jadi malam. Waktu tidur cuma sebentar, pokoknya kerja keras untuk belajar hingga pagi. Jadi waktu buat diri kita sendiri sangat sebentar. Kuncinya harus bisa kerja keras dan disiplinlah," pungkasnya.
(est)