LANGIT7.ID - , Jakarta - Istilah
klitih ramai menjadi perbincangan warganet belakangan ini. Aksi kekerasan yang dilakoni anak-anak usia sekolah atau remaja, berkisar 14-19 tahun, mengincar anggota geng motor lain.
Rentetan fakta kekerasan yang dilakukan geng motor dengan aksi klitihnya ini terakhir menorehkan duka keluarga dari Daffa Adzin Albazith. Saat itu, dikabarkan Daffa, anak dari anggota DPRD Kebumen, tengah mencari makan di Jalan Gedongkuning, Kotagede, Ahad (3/4/2022).
Baca juga: 5 Fakta Klitih di Jogja, Aksi Begal Geng Motor yang Lagi ViralDosen UGM yang juga merupakan inisiator Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) DIY, Muhammad Nur Rizal, menyebut pemicu aksi klitih ini muncul akibat perubahan dan tekanan selama pandemi Covid-19.
Ia menambahkan, perubahan saat
pandemi ini terjadi di dalam keluarga, sekolah, relasi pertemanan, dan di lingkungan masyarakat. Kondisi yang sedemikian kompleks tersebut membuat anak remaja sulit memenuhi kebutuhannya akan ruang ekspresi diri.
“Manusia butuh aktualisasi diri. Tapi belakangan ini anak muda tidak punya ruang untuk berekspresi baik di sekolah, di keluarga, maupun di masyarakat sekitarnya,” ucap Nur Rizal seperti dikutip dari laman resmi UGM, Senin (18/4/2022).
Terlebih ketika aktivitas belajar dilangsungkan sepenuhnya secara daring, hingga membuat ruang berekspresi, berkarya dan berinteraksinya hilang. Begitu pun dengan ruang interaksi di lingkungan masyarakat.
Anak banyak menghabiskan waktu di rumah, namun yang menjadi permasalahan banyak keluarga tidak memiliki relasi yang baik.
“Banyak orang tua mengalami efek pandemi dan terpuruk secara ekonomi sehingga mereka lupa untuk membangun kedekatan dan komunikasi yang intensif dengan anak,” kata Rizal.
Padahal, dalam kondisi tersebut anak juga mengalami banyak persoalan baru sehingga perlu mendapat perhatian dan pendampingan dari orang tua. Hal ini membuat relasi antara anak dengan orang tua semakin jauh, dan banyak anak melarikan diri ke dunia teknologi.
“Ketika ruang interaksi dan partisipasi berkurang, anak lari ke dunia teknologi. Bagi sejumlah anak, ketika dia terpapar pada hal-hal negatif dia kemudian mencoba menerapkannya,” imbuhnya.
Menurut Nur Rizal, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa sejumlah perubahan pada perilaku kejahatan yang bisa dilakukan secara individual.
Baca juga: Klitih Makin Menghawatirkan, Pemkab Sleman Minta Patroli Malam DitingkatkanTermasuk halnya pada aksi klitih yang sebelumnya lebih banyak dilakukan secara berkelompok, saat ini aksi tersebut bisa dilakukan secara individual.
Solusi yang ditawarkan untuk permasalahan ini adalah dengan menciptakan lingkungan yang positif.
“Lingkungan positif harus dimaknai sebagai lingkungan yang memberi rasa aman bagi siswa untuk melakukan kegiatan sesuai dengan kodratnya sebagai manusia, juga dimaknai dengan adanya peran masyarakat yang terkecil dalam membangun kegiatan yang partisipatif,” paparnya.
Selain itu, sekolah dan keluarga perlu membangun penalaran dan kesadaran anak, memperbanyak ruang refleksi dalam proses belajar dan mendorong anak untuk mengenali potensi, keunikan, serta emosinya.
Anak menurutnya perlu lebih banyak terlibat dalam kegiatan belajar yang berbasis masalah, di mana anak didorong untuk melakukan aktivitas yang positif bagi masyarakat.
“Anak tidak boleh teralienasi dari masyarakat. Belajar membangun rasa empati, dan sejak muda dia mengerti bahwa ilmu pengetahuan, keterampilan diri, dan kompetensi sosialnya bermanfaat bagi orang lain, dengan begitu anak tidak merasa sebagai
useless generation,” kata Rizal.
Baca juga: Lando Norris Dirampok Usai Laga Final Piala Eropa, Jam Mewahnya Raib(est)