LANGIT7.ID, Semarang - Desainer
fashion asal Semarang Ina Priyono menyebut banyak terjadi perubahan untuk pemakaian baju muslim, sejak era pandemi hingga saat ini. Ada satu hal yang mencolok, apa yang menjadi permintaan pasar.
“Saat ini, para desainer maupun orang penyuka mode, suka baju yang simpel. Kita membuat simpel, satu warna, atas bawah sama, satu set. Saat ini garis-garis tetap laku. Dirata-rata orang belanja, ada suatu perubahan,” kata Ina Priyono dalam diskusi “Semarang Kota Modest Fashion“ di Instagram @unik_oke dikutip Langit7, Rabu (20/4/2022).
Ina menegaskan, meski tren ini cenderung terus mengalami perubahan, tapi yang terpenting baju muslim harus tetap mengedepankan kenyamanan bagi pemakainya.
“Tapi saya sangat setuju. Memang yang paling utama, membuat baju yang nyaman di pakai dalam segala suasana, apalagi Semarang panas,” ucapnya.
Baca juga: Tetap Sopan dan Modis, 6 Jenis Manset Ini Cocok Untuk Wanita BerhijabDikatakan, dukungan Pemkot Semarang pada dunia
fashion selama ini sudah maksimal, karena Semarang sudah ditetapkan, menjadi kota
fashion pada 2019. Itu menjadi usaha luar biasa untuk mengangkat potensi yang bisa digali dari para desainer di Kota Lumpia.
“Kami selalu
diopyak-opyak, berapa penjahitnya?, bagaimana membuat uKM bisa naik kelas?. Dekranasda banyak mendukung kami, pelatihan desain dan menjahit. Ada juga
fashion show dan f
ashion on the street. Itu yang membangkitkan Kota Semarang,” bebernya.
Hanya saja memang sejak pandemi Covid-19
event-event tersebut berhenti. Padahal acara itu sangat dinanti. Karena Semarang tidak ada
event, selama pandemi lalu biasanya para perancang busana ikut
event di Yogyakarta.
“Bulan Juli, nanti kemudian November ada
event show, ada lombanya, ada
workshop-nya,” ucapnya.
Pemerhati busana Lisa Fitria menyebut, perubahan di Kota Semarang terkait dengan perkembangan
fashion cukup signifikan.
Dulu sekitar 10-15 tahun lalu, orang Semarang paling tidak
fashionable. Dulu bisnis
fashion susah. Karakter orang Semarang loyal karena sudah ada Matahari dan Ramayana, yang akan tetap eksis.
“Tipikal seperti itu gaya klasik elegan, tidak berani yang aneh-aneh. Tetapi sejak
booming fashion week-fashion week di daerah, diikuti banyak kegiatan di Semarangg yang di-
support, komunitasnya terbentuk. Desainer memberi kreatifitasnya luar biasa, tidak kalah dengan Jakarta. Saya sangat saulut dengan desainer,” kata Lisa.
Baca juga: Amy Atmanto: Akhir Tahun Jadi Awal Pergerakan Positif Industri Fesyen Tanah AirMenurutnya, masyarakat Semarang sekarang lebih fashionable. Ada Citraland, Java Mall, disitu mempengaruhi untuk bergaya. Semarang berdandan cantik. Misal kota lama dibuat seperti Harajuku Jepang. Harus ada banyak pancinganya, karena pengen gaya
fashionable, tapi masih malu-malu.
“Jadi kota kreatif khusus
fashion, ada fashion distrik. Sudah ada galeri di Kota Lama, multifashion tidak apa-apa. Yang
high lights spesialisasi muslim
distric memang belum ada,” ujarnya.
”Benar-benar ditunjuk kota
fashion (agar) terasa, ada event yang konsisten. Misal ladies market, konsiten mengadakan mini bazar yang diadakan sebulan atau dua bulan sekali di minggu terakhir. Tapi konsisten, tempat bisa pindah-pindah, misal di mall paragon,” ujarnya.
(sof)