LANGIT7.ID, Jakarta - Toshihiko Izutsu merupakan seorang profesor Keio University Jepang yang hafal Al-Qur’an dan menguasai lebih dari 30 bahasa, seperti bahasa Arab, Persia, Sansekerta, Pali, China, Rusia, dan Yunan.
Izutsu mampu mengkhatamkan Alquran dalam waktu 1 bulan setelah mempelajari bahasa Arab. Hal menakjubkan hasil dari kerja keras lainnya adalah terjemahan langsung pertama Alquran dari bahasa Arab ke Jepang, pada tahun 1958.
Mengutip laman tafsiralquran.id , Izutsu lahir pada 4 Mei 1914 di Tokyo, Jepang. Da memulai jenjang pendidikan tinggi di Keio University. Dia awalnya mengambil spesialisasi di bidang ekonomi. Namun, tak lama kemudian, dia pindah jurusan ke bidang Sastra Inggris.
Baca juga: Masjid Kobe, Masjid Tertua di Jepang yang Selamat dari Perang Dunia IIPada 1937, setelah lulus sarjana, Izutsu mulai aktif mengabdi sebagai asisten research. Pada tahun-tahun berikutnya, dia menjadi dosen di kampus tersebut. Pada 1954, dia dianugerahi gelar Profesor Madya dari Keio University. Dia terkenal sangat cerdas. Dia menguasai lebih dari 30 bahasa.
Izutsu mulai tertarik terhadap Islam ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Pada saat itu, dia sering mengunjungi masjid an Turkish Islamic Centre di Tokyo. Itu membuat dia tertarik belajar bahasa Arab dan Turki.
Salah satu mentor utama Izutsu dalam belajar studi Islam adalah seorang sarjana muslim reformis, Musa Carullah Bigiyef. Dia mempelajari al-Kitab karangan Imam Syaibawaih, Shahih Muslim, dan beberapa buku-buku klasik Arab beserta syair-syair jahiliyah.
Berkat kemampuannya terhadap bahasa Arab, dia lalu ditunjuk sebagai dekan Fakultas Arabic Studies di Keio University. Dia juga menerjemahkan Al-Qur’an dari bahasa Arab ke Jepang.
Izutsu lalu menetap di Mesir dan Lebanon pada 1959-1961. Dia bertemu banyak sarjana muslim di dua negara itu. Hingga pada akhirnya, pada 1962-1968, dia diminta menjadi profesor tamu di Universitas McGill Montreal Canada.
Setelah mengajar di McGill, Izutsu beralih menjadi pengajar di Imperial Iranian Academy of Philosophy Teheran, dengan dua durasi waktu mengajar yang sama yaitu dua tahun (1975-1079).
Baca juga: Filsafat Akhlak: Mengenal Empat Potensi Besar ManusiaDia pindah dari Amerika ke Iran atas undangan dan permintaan dari kolega Izutsu, Seyyed Hossein Nasr. Selama di Iran, dia menemui beberapa intelektual dunia, seperti Henry Corbin, James Morris, Mohammed Arkoun, dan Sayyid Jalaluddin Ashtiyani.
Izutsu juga aktif di kajian lembaga ilmiah seperti Nihon Gakushiin atau The Japan Academy (1983), Institut International de Philosophy (Paris, 1971), Academy of Arabic Language (Mesir, 1960), Eranos Lecturer on Oriental Philosophy (Switzerland, 1967-1982).
Izutsu meninggal pada 7 Januari 1994 di Kamakura, Jepang saat berusia 79 tahun. Karya dan pemikiran Izutsu hingga hari ini banyak dikaji oleh mahasiswa dan ilmuwan yang mempelajari tafsir Al-Qur'an dan
Islamic Studies di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
(jqf)