LANGIT7.ID, Jakarta -
Nabi Syam'un al-Ghazi adalah seorang Nabiyullah yang dikisahkan dalam kitab "Durrotun Nasihin" pada bab
Lailatul Qadar. Berikut kisahnya diceritakan Rasulullah.
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendapat berita dari seorang yang tua dari kaum Israil, kisah seorang pejuang Allah yang bernama Syam'un al-Ghazi. Ketika Rasulullah menceritakan kisah perjuangan dakwah Nabi Syam'un kepada para Sahabat, mereka lantas menangis haru.
Nabi Syam'un juga dikenal dengan beberapa nama. Dalam bahasa Ibrani disebut dengan Simson, dalam bahasa Tiberias disebut dengan Shimshon, dalam Alkitab Nasrani beliau disebut dengan Samson.
Nama Syam'un sendiri artinya yang berasal dari matahari, sedangkan al-Ghazi artinya yang berasal dari Ghazi ataupun Ghaza, Palestina sekarang.
Baca Juga: Cara Mengetahui Lailatul Qadar Ala Imam Al-GhazaliSuatu ketika Nabi SAW berkumpul bersama para sahabat di bulan suci Ramadhan, beliau terlihat tersenyum sendiri, lalu ditanya oleh para sahabatnya, "Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah?"
Beliau menjawab, "Diperlihatkan kepadaku di hari akhir ketika seluruh manusia dikumpulkan di padang mahsyar, ada seorang Nabi yang membawa pedang dan tidak mempunyai pengikut satu pun masuk ke dalam surga, dia adalah Syam'un."
Syam'un al-Ghazi diketahui sebagai Nabi yang berasal dari Bani Israil dan diutus di Tanah Romawi. Dia berperang melawan bangsa yang menentang keTuhanan Allah.
Syam'un memiliki mukjizat mampu melunakkan besi dan dapat merobohkan istana. Dia bersenjata semacam pedang yang terbuat dari tulang rahang unta.
Dengan pedangnya itulah, Syam'un membunuh ribuan orang kafir yang menentang ajaran-Nya. Dikisahkan, siapa pun yang berani berhadapan dengannya pasti akan hancur.
Bahkan, melalui perantara pedangnya itu, Syam'un juga diberikan makan dan minum oleh Allah SWT.
Dakwah yang dia lakukan tidak mudah diterima oleh kaum kafir. Sehingga banyak pertentangan dan perlawanan terhadapnya, bahkan dari istrinya sendiri.
Singkat cerita, istri Nabi Syam'un bekerja sama dengan kaum kafir untuk meruntuhkan kekuatan dan membunuhnya. Beberapa kali percobaan, tapi mereka selalu gagal.
Hingga Syam'un yang belum mengetahui istrinya bersekongkol dengan kaum kafir, menceritakan kelemahannya yang terletak pada rambutnya yang panjang. Syam'un digambarkan memiliki rambut panjang hingga menyentuh tanah.
Dari situ, sang istri yang mulai mengetahui kelemahannya mulai mengikat tangan dan kakinya dengan masing-masing menggunakan empat helai rambut dari Syam'un sendiri.
Syam'un yang terikat dengan rambutnya pun tidak berdaya melepaskan ikatan tersebut. Hingga ia akhirnya dibawa kepada Raja Kafir saat itu dan diikat pada tiang utama istana.
Dalam keadaan terikat dan tak berdaya itu, Syam'un mulai dipertontonkan, dan mulailah orang-orang kafir memotong kedua telinga, bibir, kedua tangan, dan kakinya. Tidak hanya itu, Syam'un juga disiksa dengan dibutakan kedua matanya.
Siksaan demi siksaan diberikan kepada Syam'un dengan tujuan agar dia mati secara perlahan. Di situ, terdapat pula istrinya yang jahat dan ikut menyaksikan penyiksaan terhadap suaminya tanpa belas kasih.
Allah SWT lantas memerintahkan Malaikat Jibril untuk berbicara kepada Syam'un. "Hai Syam'un apa yang engkau inginkan, aku akan menindak mereka."
Syam'un berdoa, "Ya Allah berikanlah kekuatan kepadaku sehingga aku mampu menggerakkan tiang istana ini, dan akan aku hancurkan mereka dengan kekuatan dari-Mu."
Doa Syam'un dikabulkan, dia pun mendapatkan kembali kekuatannya. Dengan izin Allah Syam'un menggoyangkan tiang istana tersebut hingga roboh menimpa raja bersama seluruh khalayak istana, termasuk istrinya yang durhaka.
Atap istana yang turut ambruk juga menimpa orang-orang kafir hingga mereka semua mati. Dalam kejadian itu, hanya Syam'un seorang yang selamat.
Lalu Allah pun mengembalikan seluruh anggota badan yang telah terpotong dan menyembuhkan segala kesakitannya.
Usai peristiwa itu, Syam'un al-Ghozi bersumpah kepada Allah akan menebus semua dosanya dengan berjuang menumpas semua kebatilan dan kekufuran selama 1.000 bulan tanpa henti.
Dia juga menyibukkan diri dengan ibadah kepada Allah, di mana saat malam hari dia memperbanyak shalat malam, sedangkan siangnya beliau berpuasa. Syam'un menjalankan ibadahnya selama 1.000 bulan hingga ajalnya tiba.
Mendengar kisah itu, para Sahabat menangis haru lantas bertanya, "Tahukah engkau akan pahalanya?" Rasulullah menjawab, "Aku tidak mengetahuinya."
Setelah Rasulullah selesai berkisah, Allah memerintahkan Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad dan menurunkan surat al-Qadr.
"Hai Muhammad, Allah memberimu Lailatul Qadar kepadamu dan kepada umatmu. Ibadah pada malam itu lebih utama daripada ibadah 1.000 bulan," ujar Malaikat Jibril.
Mendengar berita itu, Rasulullah menyuruh para sahabatnya untuk berburu malam Lailatul Qadar agar mendapat pahala seperti yang Allah berikan kepada Syam'un al-Ghazi.
Adapun saat mendapatkan malam Lailatul Qadar, umat Nabi Muhammad SAW akan mendapatkan ampunan dari dosa yang dilakukan, kecuali empat kelompok. Di antaranya yakni:
Pertama, orang yang membiasakan diri minum arak;
Kedua, orang yang durhaka kepada orang tuanya;
Ketiga, orang yang memutus silaturahmi;
Keempat, orang yang bertengkar dengan sesamanya dan belum berdamai dalam jangka waktu tiga hari.
Itulah kisah Nabi Syam'un al-Ghazi dan malam Lailatul Qadar. Wallahu a'lam bishawab.
(bal)