LANGIT7.ID, Jakarta - Penentuan awal Syawal dilakukan dengan dua metode, yakni metode melihat anak bulan atau hilal, dan perhitungan atau hisab. Pemerintah Indonesia umumnya menggunakan metode melihat hilal untuk menentukan Idul Fitri.
Dai kondang Ustadz Abdul Somad (UAS) mengatakan umat Islam tidak perlu ikut mengamati hilal. Cukup percaya kepada saksi yang ditunjuk dan disumpah oleh pengadilan agama. "Kita tidak perlu menengok langsung, cukup percaya saja hasil pengamatan para saksi," ujar UAS dikutip dari
channel YouTube-nya, Ahad (1/5/2022).
"Saksi yang dipilih harus memiliki pemahaman yang baik tentang astronomi. Selain itu ia harus memiliki mata yang sehat dan disumpah di pengadilan," lanjutnya.
Pengamatan hilal dapat dilakukan pada Ahad sore 29 Ramadhan 1443 Hijriah, atau bertepatan dengan tanggal 1 Mei 2022. Pengamatan hilal biasanya menggunakan teropong di beberapa titik daerah di Indonesia.
Baca Juga: Kemenag: Hilal Awal Syawal di Indonesia Penuhi Kriteria Baru MABIMS
Rasulullah dalam haditsnya menganjurkan melihat hilal untuk menentukan awal dan akhir puasa Ramadhan. "Bepuasalah kamu ketika melihat anak bulan (hilal) dan berhari raya lah kamu ketika melihat anak bulan (hilal). Apabila tertutup awan maka sempurnakanlah Ramadhan 30 hari." (HR Bukhari Muslim).
UAS menerangkan, melihat hilal merupakan ibadah pada akhir bulan Ramadhan. "Sore hari pada 29 Ramadhan atau 1 Mei, bila ada yang bersaksi melihat anak bulan, maka Senin kita hari raya. Tetapi kalau sampai petang tidak terlihat anak bulan, maka berarti Senin tetap berpuasa ke-30 Ramadhan, dan lebarannya Selasa," katanya.
Di Indonesia, pemerintah mengerahkan pengamat hilal yang disebar di berbagai titik wilayah Indonesia. Biasanya terdiri dari perwakilan berbagai ormas Islam. Saksi-saksi kemudian melaporkan pengamatanya ke Kementerian Agama dan dilakukan sidang Isbat, untuk menentukan tanggal 1 Syawal 1443 Hijriah.
(jqf)