LANGIT7.ID - , Jakarta -
Ramadhan telah berlalu, meskipun begitu umat Muslim harus tetap menjalani kewajibannya beribadah pada Allah SWT.
Namun demikian, memang terkadang cobaan dalam beribadah seringkali muncul. Terkadang, bagi mereka dengan iman yang kurang kuat menjadi malas. Padahal ibadah itu penting apalagi di bulan Syawal seperti ini.
Ustadz Yudin Taqyudin alias Gus Taqi menjelaskan Syawal itu berasal dari kata syala yang berarti irtafa'a atau meningkatkan. Artinya ini menjadi isyarat bagi umat Muslim untuk meningkatkan amal
ibadah dan ketakwaan usai Ramadhan.
Diharapkan, lanjut Gus Taqi, ibadah di Ramadhan berlanjut di bulan Syawal dan bulan-bulan selanjutnya. Hingga nanti kembali bertemu dengan Ramadhan untuk mengisi kekosongan diri.
Baca juga: Istiqomah Beribadah setelah Ramadhan, Mulai dari Puasa SyawalLantas, bagaimana menjaga semangat beribadah usai Ramadhan atau tetap
istiqomah bahkan lebih meningkat?
Menurut Gus Taqi ada tiga hal yang perlu dilakukan oleh umat Muslim agar ibadah tetap meningkat usai Ramadhan yakni muhasabah, mujahadah dan muraqabah.
"Pertama, muhasabah. Ia merupakan aktivitas atau perilaku manusia yang menghitung-hitung atau berintropeksi tentang sejauh mana amal ibadah dan amal ketaatan yang telah dilakukan.," ujar Gus Taqi dikutip dari kanal Youtube Gus Taqi, Selasa (10/5/2022).
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hasyr ayat 18:
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
Menurut Gus Taqi yang dimaksud hari esok adalah hari kiamat atau yang terdekat setelah kehidupan umat manusia, yakni kematian.
"Melalui surat ini, Allah SWT mengingatkan umat manusia setelah ia memerintahkan untuk untuk bertakwa. Allah SWT mengingatkan setiap umat muslim dan setiap pribadi yang dimiliki, hendaknya diperhatikan apa yang telah dilakukan artinya manusia diminta untuk bermuhasabah," ucapnya.
Selain muhasabah, kata Gus Taqi umat muslim juga dianjurkan untuk mujahadah. Yakni bersungguh-sungguh dalam berjuang guna mempertahankan tradisi atau kebiasaan dalam menjalankan ibadah selama bulan Ramadhan.
"Di bulan Syawal ini kita harus tancapkan tekad untuk terus melestarikan kebiasaan-kebiasaan positif yang telah kita tanam atau yang telah dibangun selama Ramadhan. Perjuangan ini tentu akan banyak menghadapi tantangan baik dari lingkungan sekitar maupun dari diri sendiri," tuturnya.
Baca juga: Istiqomah Berhijab, Deretan Atlet Ini Selalu Cetak Prestasi"Kalau lingkungan mendukung untuk melakukan ibadah puasa maka sekeliling kita (umat muslim lainnya) akan ikut berpuasa. Tetapi di luar Ramadhan untuk berpuasa sunnah tidak semua yang mengerjakannya dan inilah tantangannya, maka itu hendaknya kita mujahadah atau bersungguh-sungguh," lanjut Ustadz Gus Taqi.
Allah SWT telah memberikan motivasi kepada orang yang bersungguh-sungguh dalam tujuan sebagaimana surat Surat Al - 'Ankabut ayat 69, "Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik."
Setelah mujahadah, Anda harus selalu merasa muraqabah. Yakni merasa diawasi oleh Allah SWT.
"Apapun yang dilakukan hendaknya didasari karena Allah SWT, kita sering berujar sesungguhnya shalatku ibadahku, hidupku, dan matiku untuk Allah, Tuhan semesta alam," ungkapnya.
Di Ramadhan kemarin ibadah puasa yang dilakukan, sifatnya rahasia. Tidak ada yang tahu apakah Anda puasa atau tidak, kecuali Allah SWT dan diri sendiri.
Pelajaran yang didapat saat berpuasa yakni muraqabah, dimana selalu muncul perasaan merasa diawasi oleh Allah ta'ala.
Nabi berpesan, "Hendaknya kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat Allah, lalu jika kamu tidak mampu melihatnya maka ketahuilah Allah Ta'ala melihatnya".
Baca juga: Nasihat UBN di Penghujung Ramadhan: Beribadah Harus Istikamah(est)