Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home sosok muslim detail berita

Hafidzhah Nabila: Mengajarkan Al Qur'an yang Pertama adalah Doa

Dwitisya Rizky Desindatika Senin, 02 Agustus 2021 - 09:00 WIB
Hafidzhah Nabila:  Mengajarkan Al Qur'an yang Pertama adalah Doa
Ustadzah Nabila Abdul Rahim Bayan al Hafidzhah Foto: Twitter/hafizRCTI
LANGIT7.ID, Jakarta - Nabila Abdul Rahim Bayan al hafidzhah mulai dikenal publik sejak wajahnya kerap muncul di layar kaca sebagai salah satu juri program Hafiz Indonesia di RCTI.

Muslimah kelahiran Makkah, 15 April 1992 ini menjadi seorang pengajar Al-Qur’an di beberapa sekolah, dan pernah menjadi guru salah satu putri Imam Masjidil Haram.

Lahir dan besar di Arab Saudi, ia dan saudaranya mulai belajar Al-Qur’an bersama orangtuanya sejak usia 4 tahun. Nabila tuntas menghafal 30 juz pada usia 17 tahun.

Bagaimana kisah Ustadzah Nabila belajar Al-Qur’an hingga bisa jadi pribadi yang mencintai Al-Qur’an? Berikut petikan wawancara Langit7 bersama Nabila Abdul Rahim Bayan al hafidzhah.

Ustadzah Nabila diketahui belajar Al-Qur’an pertama kali saat masih kecil bersama orang tua di rumah, apa alasan orang tua memilih mengajarkan Al-Qur’an di rumah terlebih dulu?

Orang tua awalnya memililih untuk mengajarkan kami Al-Qur’an di rumah karena di Arab itu, syarat untuk masuk SD harus bisa baca (Al Qur'an). Sedangkan TK itu tidak wajib, jadi mau ikut TK boleh, tidak juga tidak apa-apa. Alhamdulillah, ayah lulusan pesantren. Jadi walaupun di Mekkah tidak ada pesantren, tapi sistem (pendidikan) kami di rumah itu seperti pesantren.

Jadi penentuan rutinitas itu sudah dari kecil, membuat anak-anaknya terbiasa (dengan Al Qur'an). Jadi sebelum bersekolah (formal) memang sudah dibiasakan ada waktu untuk main, ada waktu untuk mengaji, ada waktu untuk beraktivitas dan lainnya. Jadi kami punya waktu utama yang dikhususkan untuk mengaji di antara maghrib dan isya. Di waktu tersebut orangtua kami mengajari mengaji.

Metode seperti apa yang diterapkan orangtua saat mengajarkan Al-Qur’an?

Proses mengajarnya, tentu yang pertama adalah doa ya, karena tidak akan berhasil pendidikan dari orang tua untuk anaknya tanpa izin Allah SWT. Hal itu sangat diutamakan. Jadi orang tua kami juga menyelipkan doa selain mengajari kami.

Setelah shalat Maghrib atau Isya di rumah, papa jadi imam, kita ngaji bareng lalu berdoa. Saat doa itu diperdengarkan kepada kami, beliau menyebut nama kami. Mungkin saya tidak ingat jelas dan hanya diceritakan, tapi efeknya sampai sekarang masya Allah.

Kemudian proses belajar seperti pada umumnya kami mulai diajari huruf hijaiyah. Kami juga belajar bahasa Arab terlebih dahulu. Tapi dalam metode mengajar seingat saya, kami mengaji bersama lalu menyetorkan hafalan.

Ada momen-momen orang tua, terutama papa, mengajar seperti guru, seperti menggunakan papan tulis, lalu belajar menulis huruf hijaiyah. Sampai papa beli buku menulis huruf hijaiyah yang tinggal disambung.

Jadi itulah hal-hal yang dilakukan orang tua untuk mengajari kami membaca dan belajar bahasa Arab. Sebelum bisa membaca, kita dibiasakan menghafal dengan mendengarkan, juga membuka Al-Qur’an meskipun belum paham apa huruf dan bacaannya.

Apa hal yang membuat Ustadzah Nabilah menyadari pentingnya belajar dan mencintai Al-Qur’an, tidak sekadar perintah orang tua dan menjalani kewajiban?

Dari diri pribadiku, aku menyadari hal itu bukan dari kecil ya, justru saat sudah besar dan lulus SMA. Tapi sebelum proses kita belajar teori atau belajar mencintai Al-Qur’an lebih detail, mungkin sebenarnya sudah ada rasa itu dari kecil, tapi saat itu saya belum paham.

Kita kan setiap hari mengaji, belajar dari rumah lalu belajar di rumah tahfidz lalu menyetorkan hafalan atau sekedar membaca Al-Qur’an. Itu kalau absen satu hari rasanya ada yang kurang, ada sesuatu yang dikangenin. Nah disitu mungkin sebenarnya sudah terbentuk cinta kepada Al-Qur’an hanya saja gak sadar.

Alhamdulillah orang tua kami jarang sekali mengizinkan absen. Walaupun kita sakit, kalau (cuma) pusing-pusing atau badan anget dikit, selama masih bisa berdiri ya berarti kita sehat. Papa bilang nanti di sana kasih tau ke guru aja kalau kondisi kita sedang kurang sehat. Pasti nanti Ustadzah atau guru-guru akan menghargai kita yang tetap datang meskipun kondisi sakit dan itu luar biasa.

Jadi karena konsisten menghadirkan Al-Qur’an dalam keseharian, jadi saat satu hari tidak membuka Al-Qur’an rasanya ada yang kurang bahkan kadang gelisah dan galau. Dan semakin terbentuk seiring bertambahnya usia dan banyak hal yang dipelajari.

Sisi mana belajar Al-Qur’an yang menurut Ustadzah Nabilah menarik dan membuat menghafal itu sesuatu yang menyenangkan?

Kalau anak-anak zaman sekarang ditanya alasan ingin menjadi hafidz biasanya akan menjawab karena ingin memasangkan mahkota untuk kedua orangtua. Nah, kalau saya dulu belum sejauh itu. Jadi momen-momen indah itu ya karena saya menikmati. Memang dari orang tua kami tidak ada target dalam berapa tahun harus hafal berapa juz.

Kita ingin mengaji saja alhamdulillah. Mau berangkat ke rumah tahfidz saja alhamdulillah, sehingga terbentuk istiqomahnya. Itu yang ditekankan orang tua kami. Lalu saat kami mendapat nilai yang tidak terlalu bagus, orang tua kami, “ya gak apa-apa, yang penting hadir setiap hari.” Hal-hal tersebut dengan sendirinya membentuk ikatan kami dengan Al-Qur’an.

Masa turun-naik itu pasti ada, bosen pasti ada. Tapi itu mungkin dari metodenya kurang menarik, atau kadang merasa lelah karena pagi sekolah, pulang sekolah makan, tidur siang sebentar, ashar sudah dibangunin lagi, di saat lagi enaknya tidur, tapi harus ke rumah tahfidz. Masalahnya, tidak semua orang tua tega dan tegas dalam hal itu. Alhamdulillah orang tua kami menerapkan hal itu.

Kemudian (yang) memacu semangat yakni pencapaian teman-teman yang sudah banyak memiliki hafalan padahal teman tersebut lebih baru dibanding saya. Itu jadi persaingan positif untuk segera melakukan perkembangan.

Menurut Ustadzah Nabilah, apa yang harus dipertimbangkan orang tua saat akan memilih rumah tahfidz yang terbaik dan tepat untuk anak?

Keputusan orangtua untuk mengajar sendiri anak-anaknya di rumah atau menitipkan ke rumah tahfidz, kembali lagi kepada kemampuan masing-masing orang tua dan itu adalah hal yang wajar.

Barangkali ada orang tua yang berasal dari latar belakang pendidikan Qur’ani, tidak lulusan dari pesantren, atau yang membaca Al-Qur’an pun masih belajar, tidak apa-apa menitipkan anak-anak kita di tempat yang terpercaya.

Lembaga-lembaga tersebut juga bermacam-macam, ada yang di sekolah berbasis Al-Qur’an, lembaga penghafal Al-Qur’an. Sekarang ini juga sudah banyak TK atau sekolah yang juga mendalami Al-Qur’an.

Karena biarpun orangtua tidak memiliki latar belakang Qur’ani atau mengakui belum adanya kemampuan untuk mengajari anaknya, dengan mengantarkan anak-anaknya untuk belajar pada orang-orang yang tepat dan terpercaya, itu sudah baik.

(arp)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)