LANGIT7.ID, Jakarta -
Blockchain dinilai bisa menjadi kunci untuk membangun
industri halal di Tanah Air. Teknologi ini menjadi bank data digital yang memiliki banyak nilai positif.
Lembaga Pemeriksa Halal dan Kajian Halal Thayiban (LPH-KHT) PP Muhammadiyah, Nadratuzzaman Hosen menyebutkan, selama ini blockchain digunakan untuk penyimpanan data mata uang kripto dan sejenisnya.
"Blockchain dikelola peer to peer dalam bentuk sistem terdistribusi, blockchain ibarat buku besar dengan sistem verifikasi yang bersifat konsensus, dan sistem pengamanan catatan transaksi bersama kriptografi. Hal ini cocok untuk ketertelusuran industri halal yang transparan, terpercaya dan aman," kata Hosen dalam keterangannya, Selasa (17/5/2022).
Baca Juga: Direktur Halal Center IPB: SDM Kunci Penting Kesuksesan Industri PanganSistem ini diketahui telah membantu sistem industri halal di Australia, terutama pada produk daging segar. Dengan sistem itu, daging dapat ditelusuri riwayatnya dari hilir ke hulu.
Termasuk batch number, informasi tentang pendata, nomor pesanan, riwayat transportasi, hingga penyimpanan daging untuk kepastian kontaminasi dengan produk non-halal atau tidak.
"Dengan teknologi blockchain, konsumen dapat menelusuri riwayat transaksi dan kehalalan produk dalam hitungan detik baik dari dalam negeri ataupun dari luar negeri," ujarnya.
Dia meminta, agar hal ini turut menjadi perhatian, khususnya bagi Muhammadiyah di samping sertifikasi halal yang kini telah digarap oleh LPH-KHT.
Sembari menyusun blockchain, Muhammadiyah harus memasifkan sertifikasi halal kepada para pedagang dan segala bentuk produk ekonomi UMKM.
Hosen menyebutkan, para pelaku usaha dan pedagang yang memiliki tanda tersertifikasi halal di warung, gerai, atau produk makanannya akan membuat nilai jual bertambah dan laris.
"Konsep kami dalam sertifikasi halal ini adalah HHS (halal, higienitas dan sanitasi). Jadi kami tidak hanya membina halalnya saja, tapi kami juga membina kebersihan dan kesehatannya," kata dia.
(bal)