LANGIT7.ID, Jakarta - Direktur Halal Science Center IPB, Prof Khaswar Syamsu menyebutkan, SDM berperan penting dalam pengembangan
industri pangan halal di Tanah Air.
Artinya, sumber daya manusia (SDM) ini bakal mendukung industri
pangan halal melalui penelitian dan teknologi di bidang halal. Halal center di perguruan tinggi menjadi tempat untuk melahirkan SDM berkompeten di bidang halal.
“Pengabdian untuk menyukseskan pengembangan ekosistem halal juga penting dilakukan mengingat Indonesia merupakan negara dengan mayoritas muslim,” ujarnya seperti dilansir laman IPB, dikutip Ahad (15/5/2022).
Baca Juga: Haedar Nashir Minta Muhammadiyah Garap Industri Halal dan PariwisataKoordinator Staf Ahli LPPOM MUI ini menyebutkan, untuk menyiapkan sumber daya insani di bidang halal, IPB University telah melakukan sejumlah pelatihan, seperti Juru Sembelih Halal (Juleha).
“Dalam kajian Halal Center IPB University, jumlah Rumah Potong Hewan (RPH) atau Rumah Potong Unggas (RPU) yang bersertifikat halal masih rendah, yaitu kurang dari 15 persen dari total 1.329 RPH/RPU di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, hal itu merupakan masalah besar dalam sertifikasi halal. Untuk itu, IPB University telah melakukan pelatihan Juleha di DKI Jakarta kepada 227 peserta.
Sementara untuk bidang riset, pihaknya melakukan pengembangan data base biomarker produk non halal berbasis senyawa volatile.
“Kami juga tengah melakukan pengembangan metode autentikasi kehalalan daging berbasis citra digital,” imbuhnya.
Menurutnya, peran tridharma terkait halal center di perguruan tinggi penting dilakukan. Mengingat tren permintaan terhadap produk halal dunia semakin pesat.
Data Global Islamic Economy Report mengungkapkan, umat Islam menghabiskan US$2 triliun di sektor makanan, obat obatan, busana dan perjalanan serta media/rekreasi. Angka akan terus meningkat hingga mencapai US$ 2,8 triliun.
Berdasarkan GISE (Global State Islamic Economic) report 2021-2022, lima negara eksportir produk halal utama ke negara Islam dikuasai oleh China, India, USA, Brazil dan Rusia.
Ranking Indonesia dalam GISE dalam indikator ekonomi Islam global, termasuk produk halal, masih berada pada urutan ke empat di bawah Malaysia, Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab,” tandasnya.
Hal senada disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung, Prof Herry Suhardiyanto yang menyebutkan, potensi umat Islam yang sangat besar dalam industri dan pariwisata halal belum terkonsolidasi dengan baik.
“Kita harapkan peran dari pemerintah pusat merumuskan dan memberikan guidance serta kebijakan pengembangan industri pariwisata halal. Demikian pula pemerintah daerah dan sektor swasta,” kata dia yang juga Guru Besar IPB University ini.
(bal)