LANGIT7.ID, Jakarta -
Politisi senior Tanah Air, Fahmi Idris, meninggal dunia pada Ahad (22/5/2022). Pria berdarah minang itu menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Medistra, Jakarta sekitar 10.00 WIB pada usia 78 tahun.
Mantan
politisi Golkar dan Menteri Perindustrian era Presiden SBY itu dikenang sebagai sosok yang telah merasakan lika-liku periode Indonesia. Dia disebut sebagai tokoh tiga zaman yakni Orde Lama, ORde Baru, hingga Reformasi. Fahmi Idris juga menjabat menteri di dua kabinet presiden yakni Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi di kabinet BJ Habibie dan menduduki jabatan yang sama di kabinet Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK) sebelum di-reshuffle menjadi Menteri Perindustrian.
Fahmi Idris merupakan tokoh asal Minangkabau dan menghabiskan masa kecil di Kenari, Jakarta Pusat. Dia lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada 1969. Di kampus itu, dia dikenal sebagai aktivis yang ulet dan cekatan. Beberapa jabatan kemahasiswaan sempat dia sandang, antara lain sebagai pimpinan Himpunan Mahasiswa Islam, Ketua Senat Fakultas Ekonoi UI (1965-1966), lalu Ketua Laskar Ampera Arief Rachman Hakim (1966-1968).
Baca Juga: Mengenang Lily Wahid: Adik Kandung Gus Dur dan Politisi dengan Bakat Seni
Jejak Politik Fahmi IdrisFahmi Idris memulai berkarir di dunia politik pada 1984. Saat itu, dia bergabung dengan Golkar. Bersama sejumlah kolega, dia langsung unjuk gigi berkampanye di daerah asal orang tuanya, Sumatera Barat. Lalu, pada rentang 1998-2004, dia menjabat Ketua DPP Golkar Jakarta.
Karir politik Fahmi Idris di Partai Golkar sempat terhenti pada 2004, karena dipecat dari keanggotaan partai lantaran menentang hasil Rapat Pimpinan Partai yang mendukung Megawati-Hasyim Muzadi sebagai calon dan wakil presiden. Dia malah mendukung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla.
Kemudian, semasa berkarir di pemerintahan, Fahmi Idris menjabat Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada Mei 1998 sampai Oktober 1999. Berlanjut pada masa SBY, dia kembali ditunjuk di posisi yang sama. Tepatnya pada Oktober 2004 sampai Desember 2005.
Pria kelahiran Jakarta, 20 September 1943 itu lalu di-reshuffle menjadi Menteri Perindustrian pada Desember 2005 hingga 2009.
Baca Juga: Mengenang Hasanuddin AF, Sosok Bersahaja Berkontribusi Besar bagi Fatwa MUI
Selalu Mengutamakan PendidikanPihak keluarga Fahmi Idris mengenang almarhum sebagai sosok yang mengutamakan pendidikan. Dia menjadi inspirasi bagi keluarga dan selalu mengingatkan terkait pentingnya pendidikan.
"Beliau mewanti-wanti soal pendidikan, berkontribusi pada kepentingan banyak orang, masyarakat. Itu selalu ditanamkan kepada putra-putrinya," kata menantu Fahmi Idris, Aldwin Rahadian, di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Ahad (22/5/2022).
Aldwin mengatakan, Fahmi Idris menuntaskan pendidikan doktoral dan memiliki dua gelar doktor, yakni doktor bidang Manajemen Daya Manusia dan Filsafat di Universitas Indonesia. Gelar tu diraih dalam kondisi divonis kanker sejak 2014.
Kesehatan Fahmi Idris menurun sejak sepekan terakhir, penyakit kanker darah myeloma disertai infeksi menyulitkan penyembuhan. Dia meninggal di ICU Rumah Sakit Medistra, Jakarta. Dia meninggalkan satu orang istri bernama Yenni Fatmawati dan dua orang anak, yakni Fahira Idris dan Fahira Idris.
(jqf)