LANGIT7.ID, Jakarta - Pimpinan Pusat Muhammadiyah akan membangun sekolah kedua untuk pengungsi Palestina di Lebanon. Pada 6 November 2020, Muhammadiyah sudah mendirikan Sekolah Qur’an untuk pengungsi Palestina di Beirut, Lebanon.
Sekolah pertama yang dibangun itu diberi nama Sekolah Qur’an Lazismu Indonesia di Shatila Lebanon, sebuah kamp pengungsian bersejarah bagi warga Palestina. Kamp tersebut berada di Beirut, Lebanon, berjarak 25 menit perjalanan darat dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Lebanon.
Sekolah Qur’an Lazismu dibangun untuk mendidik anak-anak hingga orang dewasa memperdalam ilmu Al-Qur’an. Sekolah ini dikelolah Ketua Forum Kebudayaan dan Kepemudaan Lebanon–Palestina Ahmad Syawsh dan Syeikh Ibrahim Al Assy sebagai kepala sekolah.
Sekolah Qur’an itu berasal dari sebuah rumah warga yang dialihfungsikan. Penyerahan dana pembelian rumah sebesar 5.500 dollar Amerika dilangsungkan dalam dua tahap yakni pada Agustus dan September 2020.
Sekolah kedua yang rencananya akan dibangun memiliki konsep yang sama. Abdul Mu’ti menjelaskan, pembangunan sekolah merupakan salah satu bentuk penyaluran produktif dana bantuan umat untuk Palestina.
“Kenapa Muhammadiyah memilih membangun sekolah di Lebanon? Karena di situ kami mendapatkan informasi dari Pak Hajriyanto Y Thohari Duta Besar Republik Indonesia untuk Lebanon bahwa di Lebanon itu terdapat lebih dari 400.000 pengungsi Palestina,” kata Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, dikutip laman resmi Muhammadiyah, Selasa (3/8/2021).
Menurut Mu’ti, aksi internasional Muhammadiyah untuk mengamalkan pesan kemanusiaan yang terkandung dalam Al-Qur’an. Memang, kata dia, pembangunan sekolah itu bukan hal mudah, karena ada banyak rintangan dan kesulitan yang dihadapi. Salah satunya kesulitan akibat pandemi Covid-19.
“Tetapi pada saat yang sama di tengah kesulitan itu kita juga tidak boleh egoistis, tidak boleh kemudian berfikir hanya untuk keselamatan diri sendiri, tetapi juga harus berpikir untuk keselamatan orang yang lainnya,” kata Abdul Mu’ti.
(zul)