LANGIT7.ID, Surabaya - Perjalanan akademik Prof Akhmad Muzakki sangat menginspirasi. Dia dilantik menjadi Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya pada Senin (6/6/2022) lalu.
Prof Zaki merupakan putra dari penjual petis di Pasar Sidoarjo. Dia sosok yang disiplin dalam hidup, sehingga bisa meraih kesuksesan di dunia pendidikan. Hingga pada akhirnya dia mampu berdiri sejajar dengan sejumlah Rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) menerima amanah dari Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas.
"Para Rektor dan Kepala Biro PTK harus bisa membuktikan bahwa saudara-saudara siap memajukan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri sesuai tugas dan fungsi yang diamanahkan kepada saudara," kata Yaqut, dikutip laman resmi Kemenag, Rabu (8/6/2022).
Prof Zaki merupakan guru besar termuda di kampus UIN Sunan Ampel. Dia menyandang
Profesor sejak 1 November 2014. Dia merupakan
profesor bidang sosiologi pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial Politik UIN Sunan Ampel.
Baca Juga: Ustaz Abdul Somad Bukan Hanya Penceramah, Tapi Juga Seorang Profesor
Sejumlah kisah pilu mengiringi perjalanan Prof Zaki meraih gelar tersebut. Dari mulai berkas yang hilang, saran dari banyak kolega agar tidak terburu-buru, hingga banyak godaan lain. Dia juga harus menghadapi aturan ketat.
Suami dari Erna Mawati itu menjelaskan, para dosen di bawah naungan Kemenristek-Dikti hanya mengalami penilaian jenjang universitas dan Dikti saja untuk meraih gelar
profesor. Sedangkan, dosen yang berasal dari Kemenag harus melewati sekian macam dan tingkatan
check point penilaian.
Peraih gelar
Graduate Diploma in Southeast Asian Studies dari Fakultas Asian Studies The Australian National University (ANU) Canberra itu menjelaskan, setelah dinyatakan lulus di tingkat universitas, berkas usulan dinaikkan ke jenjang check point di Diktis Pendis Kemenag.
Tak sampai di situ, berkas yang ada dinilai oleh sidang dewan guru besar Diktis Pendis Kemenag. Selanjutnya, penilaian di Dikti Kemendikbud-Ristek. Di sini, berkas mengalami dua penilaian yakni penilaian angka kredit atau PAK oleh sidang dewan guru besar dan penilaian dalam bentuk validasi oleh tim validasi atau tim siluman.
Peraih gelar master of philosophy (MPhil) dari Australian National University (ANU) itu menjelaskan, tim siluman itu menelisik masuk ke 'bilik-bilik akademik' sekecil dan sesempit apapun.
"Konon, tim siluman ini diberi tugas khusus oleh Dirjen Dikti untuk melakukan validasi dokumen calon guru besar," kata Prof Zaki, dikutip laman resmi Nahdlatul Ulama.
Perjuangan alumnus program PhD di School of
History, Philosophy, Religion and Classic, the University of Queensland Australia itu tak sampai di situ. Pada pertengahan 2014, berkas untuk keperluan mengurus gelar profesornya hilang.
Dengan terpaksa, seluruh berkas diurus dari awal. Namun, pihak Dikti hanya memberikan waktu dua pekan untuk menyelesaikan copy dokumen yang hilang tersebut. Segala upaya dilakukan akhirnya tantangan itu bisa diselesaikan.
Baca Juga: Hebat, Para Ulama Ini Tak Hanya Kiai tapi juga Profesor
Tetapi tantangan tak sampai di situ. Prof Zaki mendapat kabar bahwa staf Dikti salah menginput penilaian berkas, yang awalnya untuk keperluan guru besar ternyata beralih menjadi lektor kepala.
Akibat salah input itu, mantan dosen di Faculty of Asian Studies ANU Australia itu akhirnya harus relah mengurus berkas kembali. Mau tidak mau menunggu validasi dari berkas yang dibuat dari awal tersebut.
Butuh waktu sekitar 3 tahun bagi Prof Zaki untuk bisa menyandang gelar profesor bidang sosiologi pendidikan. "Semua proses itu saya lakukan dengan penuh romantika, persis seperti permainan roller coaster yang kadang menggembirakan dan kadang pula menegangkan," katanya.
Kini, gelar Prof Zaki semakin panjang. Jika ditulis lengkap, nama beliau adalah Prof Akhmad Muzakki, Grand, SEA, MAg, MPhil, PhD.
(jqf)