LANGIT7.ID - Indonesia kembali kehilangan satu lagi sosok Ulama. Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia periode 2015-2020 Ustaz Mohammad Siddik berpulang ke Rahmatullah akibat terinfeksi virus Covid-19. Almarhum wafat pada Selasa, 29 Juni 2021 pukul 16.45 WIB di RS Harapan Kita Jakarta.
Ustaz Mohammad Siddik tidak hanya punya kiprah dan kontribusi besar di dalam negeri namun juga memiliki banyak peran di kancah Internasional sejak usia muda.
Pria kelahiran Kuala Simpang, Aceh, pada 15 Januari 1942 ini telah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejak pelajar dan di masa mahasiswa.
Pada tahun 1966, ketika Siddik masih aktif di PB PII, ia pernah mengundang Sekretaris Jenderal Muktamar Alam Islami, Dr Inamullah Khan, untuk menghadiri Muktamar ke-12 PII di Bandung. Siddik juga sempat menjadi tamu Mufti Besar Palestina, Syeikh Amin Al Husaini di markasnya waktu itu di Beirut, Lebanon. Pada tahun 1968, Siddik juga berjumpa dengan tokoh Ikhwanul Muslimin, Dr. Said Ramadhan, di Jenewa, Swiss. Siddik juga Pernah bertemu Pangeran Hassan, ketika itu Putra Mahkota Jordan; bertemu dengan Sekjen Muktamar Al-Quds dan pernah menjadi Menteri Wakaf Jordan, Dr Kamil Sharif. Pada Tahun 1969 berjumpa dengan Direktur Jenderal Urusan Islam Mesir, Dr. Taofiq Awaeidah, bersilaturrahmi dengan Sekretaris Jenderal Rabithah Al-Alam Al-Islami, Syeikh Ali Al Harakan, dan lain-lain.
Saat tamat kuliah dari Universitas Nasional, Almarhum diajak pendiri Dewan Dakwah yang juga mantan Perdana Menteri RI Mohammad Natsir. Sejak muda ia telah dikader oleh M Natsir dengan karir pertama menjadi staf Dewan Dakwah sejak Juni 1968 dan berkantor di Jalan Blora Jakarta Pusat.
Selang beberapa tahun, Ia dikirim ke New York untuk menghadiri kongres pemuda sedunia yang digelar PBB. Selama menjalani tugas luar negeri, pria yang hobi main tenis meja ini aktif mengirimkan informasi kepada Ketua Dewan Dakwah mengenai misi diakonia Kristenisasi di berbagai negeri di seluruh dunia termasuk Indonesia.
Kemudian dari tahun 1973, Ustaz Siddik memulai karirnya sebagai staf junior di UNICEF sembari melanjutkan studi Magister di jurusan International Development Studies di Fairleigh Dickinson University, New Jersey. Selama bertugas di UNICEF (PBB) di New York dan Kathmandu-Nepal, Ustaz Siddik tercatat pernah menjelajahi lebih dari 90 negara. Pria kelahiran 15 Januari 1942 ini pun menguasai bahasa Inggris, Perancis, Arab, dan Urdu.
Menurut Ketua Pusat Dokumentasi Indonesia Tamaddun Hadi Nur Ramadhan, Ustaz Siddik giat berdakwah bahkan di Markas Besar PBB. Ustaz Siddik mengelola kegiatan keagamaan rutin di Markas Besar PBB seperti diskusi tentang Islam, shalat Jum'at berjamaah untuk staff dan delegasi yang pada awalnya menggunakan salah satu ruang serbaguna yang kecil.
Ia juga biasa mempersiapkan logistik untuk pengajian rutin dan ikut membantu pengajian masyarakat dan mahasiswa Muslim yang diadakan oleh Muslim Students Association (MSA) cabang Columbia University Yang waktu itu diketuai oleh Mohammad Kamal Hassan, Kelak menjadi rektor Universitas Islam Antar Bangsa Malaysia.
Khusus di kalangan masyarakat Indonesia, Siddik mengambil Inisiatif mengadakan pengajian rutin dari rumah ke rumah, yang alhamdulillah, karena masyarakat Indonesia di New York berhasil berkembang pindah ke aula Konsulat Jenderal RI di New York. Lebih kurang 20 tahun yang lalu membangun Masjid Komunitas Indonesia, Al-Hikmah di bilangan Queens.
Ketika bertugas di Kathmandu Nepal selama dua tahun ia juga berusaha mengadakan aktivitas dakwah di sana bersama para cendikiawan Muslim yang jumlahnya sangat sedikit karena Muslim di Nepal memang minoritas. Ketika itu sangat sedikit informasi mengenai keberadaan kaum muslimin di daerah-daerah terpencil.
Untuk mencari data dan informasi yang diperlukan untuk membuat perencanaan, terutama di pedalaman Nepal, Siddik mengutus beberapa dosen muda pergi ke pedalaman untuk mencari data dan membuat studi sederhana tentang kaum Muslimin yang tinggal terisolir di kampung-kampung. Siddik juga ikut membantu mensponsori penerjemahan dan penerbitan buku-buku tentang Islam kedalam bahasa Nepal yang pada waktu itu sangat langka di daerah pegunungan tinggi Nepal.
Setelah dari UNICEF, selama 17 tahun ia bekerja di Islamic Development Bank (IDB) berkantor di Jeddah, Arab Saudi. Dalam masa itu, empat tahun terakhirnya menjabat sebagai Direktur Regional IDB untuk Asia Pasifik yang berkedudukan di Kuala Lumpur, Malaysia.
Hadi Nur Ramadhan menuturkan, pada awal di IDB Ustaz Siddik diberi tugas mengembangkan program beasiswa IDB untuk masyarakat di negeri-negeri minoritas Muslim, terutama untuk pendidikan kedokteran, teknik, pertanian dan eksakta lainnya. IDB memilih program tersebut sebagai sebuah terobosan untuk membangun sumber daya insani di negeri negeri Muslim minoritas yang memang sangat ketinggalan.
Survey yang diadakan di negeri negeri seperti Filipina, Myanmar, Kamboja, Sri Langka, Nepal, Ghana, Tanzania, Nigeria, Kenya, Sierra Leone, Malawi dan lain lain; menunjukkan sangat sedikit atau hampir tidak ada profesi dokter, insinyur, ahli pertanian, dan profesi pembangunan lainnya yang dipegang oleh orang Muslim. Para orang enggan menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah umum, karena sejak awal didirikan oleh para misionaris atau zending yang bertujuan mempengaruhi agama anak didiknya.
Melalui program beasiswa dokter gigi IDB, selama 20 tahun terakhir sudah ada lebih dari dua ribu dokter, insinyur ahli pertanian, dan lain-lain. Di Indonesia dewasa puluhan mahasiswa IDB dari Myanmar, Vietnam dan Kamboja yang belajar di UGM, UI, IPB, Universitas Brawijaya (Unibraw). dan lain-lain.
Sekembalinya dari tugas luar negeri pada 2002, Ustaz Siddik membantu mengurus Laznas Dewan Dakwah. Pada periode 2005 hingga 2010, ia ditunjuk sebagai Ketua Pengawas. Kemudian pada 2010 hingga 2015, Ustaz Siddik mendapat tugas sebagai anggota Pembina dan Anggota Badan Pekerja Pembina. Selanjutnya, pendiri World Assembly of Muslim Youth (WAMY) di Riyadh itu dipercaya menjadi Ketua Umum DDII.
Dalam aktivitas dakwah dan ormas islam, Ustaz Siddik didapuk menjadi Ketua Presidium Majelis Ormas Islam (MOI). MOI merupakan forum silaturahmi ormas Islam yang terdiri dari DDII, PUI, Wahdah Islamiyah, Mathla’ul Anwar, Al Washliyah, Al Irsyad Al Islamiyah, Al Ittihadiyah, Hidayatullah, Ikatan Dai Indonesia, Persatuan Islam, dan Syarikat Islam.
Ungkapan BelasungkawaMeninggalnya Ustaz Mohammad Siddik memberikan kesan duka mendalam bagi banyak tokoh. Diantaranya yaitu Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nasir menyampaikan duka cita. Menurut Haedar, Mohammad Siddik merupakan sosok yang rendah hati dan pandai bergaul.
“Beliau sebagai sosok yang rendah hati, ramah, dan bergaul luas di lingkungan organisasi kemasyarakatan dan kebangsaan,” katanya.
Tidak hanya itu, semangat dakwahnya luar biasa dan beliau berpikiran
wasathiyah, sehingga dikenal secara luas.
“ Beliau juga gigih dan berpendirian kuat dalam menunaikan amanat dan berdakwah Islam. Almarhum terbilang tokoh Islam yang mudah menjalin silaturahmi, meskipun dengan yang lebih muda,” ujarnya.
Haedar mengaku, almarhum sering ke Menteng menemui PP Muhammadiyah untuk bersilaturahmi memperbincangkan masalah keumatan dan kebangsaan. Beliau pernah menyampaikan pesan, "Dengan dakwah kita selamatkan dan kita bangun Indonesia".
“Semoga jejak dan perjuangan Pak Mohammad Siddik dilanjutkan oleh generasi penerusnya di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia sehingga berkesinambungan untuk kemajuan kaum muslimin dan bangsa Indonesia,” ujarnya mendoakan almarhum.
Selain, Haedar Nashir, Ketua MPR Zulkifli Hasan juga ternyata merupakan sahabat beliau.
Zulkifli mengaku bersama Ustaz Siddik di Dewan Dakwah berjuang bersama lebih dari 20 tahun. Pada saatnya beliau menjadi ketua umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat, kemudian dilanjutkan menjadi Dewan Pembina.
“Sampai akhir hayatnya beliau masih berjuang untuk mengumpulkan dana dalam rangka membangun tiang pancang kampus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Baru saja minggu lalu saya bertemu dan berjanji akan ikut membantu perjuangan beliau,” ungkapnya.
Menurut Zulkifli, bagi keluarga besar Partai Amanat Nasional, Siddik juga sangat berjasa, karena merupakan salah satu pendiri PAN. Kami sangat berduka atas berita kepergian beliau hari ini karena sakit. Beliau adalah orang tua kami, yang selalu membimbing dan memberi nasihat.
“Sebagai pribadi, saya sangat berduka dan kehilangan. Seluruh keluarga besar PAN menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga besar beliau serta keluarga besar Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Kami bersaksi beliau seorang mujahid dakwah. Kami berdoa semoga beliau meninggal dalam keadaan syahid,” katanya.
Tak hanya tokoh dalam negeri, tokoh politik di negeri jiran Anwar Ibrahim juga turut menyampaikan ungkapan belasungkawa.
“Saya mengutuskan salam takziah kepada keluarga dan sahabat-sahabat di Indonesia yang saya pasti amat terkesan dengan kehilangan Drs. H. Mohammad Siddik yang amat kita kasihi.Mendoakan agar Allah SWT memberikan ganjaran dan tempat yang terbaik buat beliau,” kata Anwar Ibrahim di laman
facebook-nya.
Diketahui Ustaz Siddik dan Anwar Ibrahim merupakan kawan seperjuangan saat merintis World Assembly Muslim Youth (WAMY).
Pemerintah Malaysia melalui Menteri Komunikasi dan Multimedianya, juga turut menyampaikan duka cita atas meninggalnya Ustaz Mohammad Siddik.
"Turut berdukacita atas kembalinya almarhum Mohammad Siddik ke rahmatullah. Almarhum merupakan mantan Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan pendiri World Assembly of Muslim Youth (WAMY) di Riyadh," ujar Menteri Komunikasi dan Multimedia Malaysia, Dato' Saifuddin Abdullah.
(jqf)