LANGIT7.ID - Salah satu tanda penuaan atau pertambahan usia pada diri seseorang adalah munculnya uban, dalam ilmu kedokteran hal ini disebut dengan achromotrichia atau canities. Namun tua bukan satu-satunya faktor yang membuat rambut seorang berubah menjadi putih. Tempat tumbuhnya rambut atau folikel memiliki sel pigmen atau zat pemberi warna yang disebut melanin. Kadar ini dapat berubah seiring waktu karena berbagai sebab.
Melanin pada folikel rambut adalah hasil pigmentasi dari dua jenis, yaitu eumelanin dan pheomelanin. Rambut akan berwarna lebih gelap jika eumelanin lebih dominan daripada phenomelanin. Sementara itu, jumlah melanin yang sedikit membuat rambut tumbuh menjadi berwarna abu-abu, perak, dan akhirnya putih.
Di antara penyebab tumbuhnya uban biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor; seperti usia, faktor genetik (keturunan), kondisi kesehatan, pengobatan dengan sinar X, kebiasaan merokok, dan albino. Berkaitan dengan uban, Rasulullah menyampaikan keutamaan dan larangan mencabut uban pada hadits-hadits shahih dan perlu dipahami secara tepat. Berikut keterangannya:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَشِيبُ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ قَالَ عَنْ سُفْيَانَ إِلَّا كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَقَالَ فِي حَدِيثِ يَحْيَى إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً"Rasulullah Saw bersabda janganlah kalian mencabuti uban, tidaklah seorang muslim beruban dalam Islam, Musaddad berkata dari Sufyan, kecuali uban tersebut menjadi cahaya pada hari kiamat. Musaddad dari jalur Yahya, kecuali Allah menuliskan baginya satu kebaikan dan allah menghapus dosanya (H.R. Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, 11/267)".
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ، فَإِنَّهُ نُورُ الْمُسْلِمِ، مَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً، وَكَفَّرَ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً، وَرَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً»"Dari Abdullah bin Amr bin Ash sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda janganlah kalian mencabuti uban, karena uban itu cahaya seorang muslim, siapa yang beruban dalam Islam maka Allah mencatatnya sebagai sebuah kebaikan, Allah menutup dengannya dosa, serta meninggikannya dengan uban tersebut satu derajat. (H.R. Ahmad, Musnad Ahmad, 11/550)."
عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ مِنْ إِجْلاَلِ اللهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ"Dari Abu Musa al-Asy'ari berkata: Rasulullah Saw bersabda: “sungguh diantara kemuliaan Allah adalah memuliakan orang muslim yang beruban” (Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, 4/261)."
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ يُكْرَهُ أَنْ يَنْتِفَ الرَّجُلُ الشَّعْرَةَ الْبَيْضَاءَ مِنْ رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ – قَالَ – وَلَمْ يَخْتَضِبْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّمَا كَانَ الْبَيَاضُ فِى عَنْفَقَتِهِ وَفِى الصُّدْغَيْنِ وَفِى الرَّأْسِ نَبْذٌ"Dari Anas bin Malik berkata: “dimakruhkan seseorang mencabuti rambut putih dari kepala dan janggutnya dan Rasulullah Saw tidak mengecat rambut (putihnya), uban Rasulullah Saw hanya ada di bawah bibir, di antara mata dan telinga, dan di kepalanya sedikit (H.R. Muslim, Shahih Muslim, 7/85)."
Makna Hadits Larangan Mencabut UbanMenurut peneliti hadits Ustadz Ginanjar Nugraha, inti dari hadis-hadis diatas adalah larangan untuk mencabuti uban, keutamaan uban menjadi cahaya pada hari kiamat, keutamaan dicatat sebagai sebuah kebaikan, dan keutamaan diampuni dosa. Adapun jika dipahami secara zahir, maka siapa saja yang banyak ubannya tentu lebih banyak kebaikan, lebih bercahaya pada hari kiamat bahkan diampuni dosanya.
"Jika dipahami demikian, maka akan janggal, bahwa ukuran kebaikan, cahaya pada hari kiamat serta diampuni dosa itu ada pada uban, bukan amal saleh. Padahal dalam ayat al-Quran dan hadis, ukuran seseorang itu amal dan hatinya bukan pada jasad atau rupa, termasuk di dalamnya uban," ujarnya seperti dikutip dari laman Tanya Jawab Fiqih.
Begitupun Allah berfirman dalam surat an-Nisa ayat 124 dan sabda Rasulullah di hadist shahih riwayat Imam Muslim.
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا"Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun (an-Nisa’: 124)."
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَBarangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (an-Nahl: 97)
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.Dari Abu Hurairah berkata : Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan hartamu, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amalmu” (H.R. Muslim, Shahih Muslim, 11/8).
Makna dan kesimpulan dari nash di atas, tambah ustaz Ginanjar, bahwa Allah hanya melihat kepada hati dan amal sebagai ukuran, bukan kepada rupa, jasad, maupun harta seseorang. Hadits-hadits mengenai uban dapat diselaraskan dengan dipahami bahwa uban merupakan tanda proses penuaan alamiah pada manusia
"Adapun larangan mencabuti uban adalah terkait dengan motif ketidakridhoan terhadap takdir Allah berupa penuaan yang ditandai dengan uban. Sehingga siapa yang ridha terhadap takdir tersebut, maka Allah akan mencatatnya sebagai sebuah kebaikan serta diampuni dosa-dosanya," tuturnya.
(jqf)