LANGIT7.ID, Jakarta -
Bisnis startup belakangan ini ramai dibicarangan netizen karena banyak PHK karyawan. Sebagian orang menyebut bahwa ini menjadi akhir bisnis digital tersebut.
Pakar Strategi
Bisnis, Indrawan Nugroho mengatakan, pemutusan PHK ini merupakan hal wajar yang dialami perusahaan rintisan.
Dengan kata lain, menjadi bagian dari course correction, yakni cara pasar mengoreksi valuasi perusahaan startup yang sudah tidak masuk akal, atau The Great Revaluation.
"Walaupun ini meyakitkan, situasi ini sebenarnya baik untuk startup dan saatnya mereka kembali kepada jalur bisnis yang benar. Artinya, mereka tidak hanya fokus mengejar pertumbuhan dengan segala cara, investor juga jadi lebih bijak dan tidak terbakar nafsu cari cuan besar dengan cara berisiko tinggi," kata dia, Selasa (14/6/2022).
Baca Juga: Menelusuri Bisnis Startup, Usaha Digital yang Dilirik InvestorCEO dan founder Corporate Innovation Asia (CIAS) ini meyakini, pascakondisi ini akan melahirkan startup yang lebih sehat, lebih kuat, dan lebih besar kontribusinya terhadap fundamental ekonomi bangsa. Walaupun pada akhirnya sebagian startup tidak mampu bertahan dan tutup.
Namun, mereka yang berhasil keluar dari kondisi saat ini akan menjadi legenda dan solusi dan masa depan. Seperti layaknya Amazon dan Google yang berhasil selamat dari gelembung internet di tahun 2000.
"Perlu diketahui, bahwa tidak semua startup bergantung pada dana investor. Sebab, sebagian memilih untuk menggunakan dana sendiri dan membiayai pertumbuhan menggunakan keuntungan yang diperoleh sepanjang jalan," katanya.
Istilah ini disebut bootstrapping, yang dengan cara ini pula membuat startup tidak bisa bertumbuh dengan cepat. Namun, biasanya menjadi lebih sehat dan founder punya kebebasan untuk menentukan arah usaha.
Selain itu tidak semua investor memainkan valuation game, karena ada investor yang mengambil peran sebagai mitra strategis. Biasanya mereka bukan Venture Capital, melainkan perusahaan konvensional yang ingin memperluas produk layanan atau ekosistem bisnisnya.
"Mereka berorientasi jangka panjang dan fokus pada penciptaan nilai. Ujungnya ya profitabilitas," katanya.
Menurutnya, mereka yang mendirikan startup dengan tujuan mendapatkan uang investor harus bersiap untuk mati. Di sisi lain, mereka yang membangun startup dengan produk atau layanan untuk solusi nyata masyarakat, maka berpeluang untuk sukses.
"Gairah dan cinta pada apa yang telah diperjuangkan itu menjadi bahan bakar yang akan terus membawa mereka menembus berbagai keterbatasan. Mereka yang akan memenangkan pertarungan adalah dia yang paling siap," ungkapnya.
(bal)