LANGIT7.ID - , Jakarta - Di masa kejayaan kerajaan, sekelompok orang Inggris memilih mendalami Islam dan menjadi mualaf. Ini adalah cerita dari kisah tiga tokoh perintis Inggris di era
Victoria.
Adalah pengacara William Henry Quilliam yang mulai tertarik pada Islam setelah melihat orang-orang Maroko shalat di kapal feri saat istirahat di Mediterania tahun 1887.
"Mereka sama sekali tidak terganggu oleh kekuatan angin kencang atau oleh goyangan kapal. Saya sangat tersentuh oleh ekspresi wajah dan ekspresi mereka, yang menunjukkan kepercayaan dan ketulusan penuh," kata Quilliam seperti dikutip dari BBC, Jumat (17/6/2022).
Baca juga: Mengenal Jawed Karim, Sosok Muslim di Balik Kelahiran YouTubeSetelah mempertanyakan tentang Islam selama tinggal di Tangiers, Quilliam yang saat itu berusia 31 tahun memutuskan menjadi seorang
Muslim. Ia pun menggambarkan Islam sebagai hal yang masuk akal dan logis.
"Secara pribadi, saya merasa itu tidak bertentangan dengan keyakinan saya". kata Quilliam.
Meski tidak ada kewajiban untuk seorang
mualaf mengubah nama, namun Quilliam memilih nama Abdullah menjadi identitas barunya.
Sekembalinya ke Inggris pada tahun 1887, ia pun menjadi seorang pendakwah.
Abdullah Quilliam dikenal memiliki peran penting dalam memualafkan 600 orang di seluruh Inggris kala itu.
Quilliam juga mendirikan masjid pertama di Inggris, tepatnya di Liverpool, kota kedua Kerajaan Inggris.
Ratu Victoria, yang memerintah lebih banyak Muslim daripada
Kerajaan Ottoman Turki, termasuk di antara mereka yang memesan pamflet "Faith of Islam". Pamflet buatan Quilliam yang merangkum aspek-aspek Islam dan diterjemahkan ke dalam 13 bahasa.
Bahkan, dikabarkan, Ratu Victoria memesan enam salinan lagi untuk keluarganya. Namun keinginannya untuk belajar tidak diimbangi masyarakat yang mempercayai Islam adalah agama kekerasan.
Baca juga: Bersyahadat di Masjid Cirebon, Mualaf Jerman: Islam Agama TerbaikPada tahun 1894, sultan Ottoman - dengan persetujuan Ratu - mengangkat Quilliam sebagai Sheikh al-Islam dari Kepulauan Inggris, sebuah gelar yang mencerminkan kepemimpinannya dalam komunitas Muslim.
Terlepas dari pengakuan resmi, banyak petobat Liverpudlian menghadapi kebencian dan pelecehan atas keyakinan mereka, termasuk diserang dengan batu bata, jeroan dan kotoran kuda.
Quilliam percaya para penyerang telah "dicuci otak dan dituntun untuk percaya bahwa kami adalah orang jahat".
Dirinya dikenal sebagai pengacara yang dekat dengan kelas miskin atau orang-orang kurang mampu. Dia memberikan advokasi serikat pekerja dan reformasi hukum perceraian.
Namun, karir hukumnya hancur ketika dia mencoba membantu klien wanita yang ingin bercerai. Diketahui, hal itu adalah sebuah perangkap yang dipasang untuk suami si klien yang diduga berzinah. Tetapi upaya itu gagal dan izin pengacara Quilliam pun dicabut.
Kemudian, Quilliam memutuskan untuk meninggalkan Liverpool pada tahun 1908. Tujuan kepergiannya adalah untuk meminimalkan dampak skandal pada komunitas Muslim. Ia pun sempat muncul kembali sebagai Henri de Leon dari selatan.
Baca juga: Jadi Mualaf, Mantan Bek Timnas Portugal ini Merasa Lahir KembaliMeski kharismanya meredup, namun tak menghentikan langkah Quilliam untuk aktif menyebarkan Islam di Inggris. Bahkan, diketahui dia ikut terlibat pembangunan masjid tertua kedua di Inggris yang dibangun di Woking pada tahun 1889.
Quilliam meninggal di tahun 1932 dan dimakamkan di Kota Surrey. Masjid yang dibangunnya dulu, hingga kini masih menggunakan namanya, Masjid Quilliam.
(est)