LANGIT7.ID, Jakarta - Tak mudah mempertahankan bisnis di era pandemi. Meski begitu, UMKM busana muslim Koyu Hijab membuktikan bahwa betapapun sulitnya ekonomi, permintaan konsumen akan busana muslim masih tinggi.
Reni Afriyanti, pemilik Koyu Hijab berhasil memadumadankan teknik bisnis penjualan luring dengan daring. Ia merasakan,
platform digital seperti
e-commerce sangat mempermudah bisnis dalam menjangkau konsumen, terutama pada saat terbatasnya pergerakan manusia seperti sekarang ini.
Koyu Hijab memiliki beberapa konveksi pribadi serta memiliki karyawan mencapai lebih dari 100 orang. Pencapaian saat ini didapat dari jatuh bangun Reni bersama suaminya, Irvan Sovian ketika memutuskan masuk ke bisnis busana muslim.
Tahun 2014, keduanya merintis hijab dengan model awal Rp500 ribu dan masih produksi meteran. Fenomena selebriti berhijab dan menjual busana muslim untuk wanita memantik keberanian Reni untuk membuat produk sendiri.
“Daripada beli nih kenapa kita gak cobain bikin sendiri aja, produksi sendiri dan kemudian iseng jualan melalui Instagram, ternyata banyak yang pesan,” kata Reni.
Hijab produksi Koyu Hijab mengambil tema motif yang modern, mulai segi empat sampai kini pashmina yang paling banyak diincar para hijabers. Penjualannya pun terus merangkak, dari yang awalnya hanya 15 buah per hari, kini Koyu Hijab bisa memproduksi 30 hingga 40 ribu paket per bulan.
“Awalnya beli kain meteran terus beli ukuran roll dan ternyata masih kurang. Lalu lanjut ambil ukuran partai tapi masih nggak cukup, mau nggak mau pesan pabrik. Dari modal Rp500 ribu nggak sangka bisa sampai seperti sekarang,” jelasnya.
Iren, sapaan akrabnya, menceritakan, ia dan suami awalnya mengerjakan produksi hijab di kamar yang diperuntukkan untuk anaknya yang masih bayi berukuran 3×3 meter persegi. Saat itu Iren dan Ivan belum mampu menyewa ruangan yang lebih luas.
Ia membeli beberapa mesin jahit dan membuka konveksi sendiri untuk membuat semua produk Koyu Hijab. Reni biasanya mulai menjahit pukul 01.00 dini hari. Sang suami berperan sebagai operator mesin bila terjadi masalah atau kerusakan.
Biasanya, kegiatan tersebut berlangsung selama dua jam lalu berlanjut pengemasan dan pengiriman pesanan pada pukul 06.00. Reni dapat menjahit maksimal hingga 50 pcs hijab dalam semalam. Saat itu, keduanya masih bekerja kantoran.
Pada 2015, Reni memasuki ranah penjualan daring dan bergabung menjadi seller di
marketplace Shopee. UMKM yang berbasis di Rancaekek, Bandung, Jawa Barat tersebut kemudian berhasil menerima pesanan ribuan produk dari salah satu pelanggan asal Malaysia. Pengalaman tersebut membuatnya semakin percaya diri mengembangkan Koyu Hijab.
Melihat bisnisnya yang berkembang, Iren memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan di bidang farmasi. Iren lebih memilih fokus mengembangkan Koyu Hijab yang kini memiliki banyak
reseller.
Koyu sekarang mulai merambah bisnis pakaian muslim untuk pria. Dirancang khusus oleh Iren dan Ivan, busana muslim pria ini untuk memenuhi permintaan konsumen yang cukup banyak.
“Fesyen muslim ini untuk melengkapi saja. Kan sudah ada hijabnya, ya sudah kita buat juga pakaian buat prianya. Ini juga kami melihat kesadaran online semakin tinggi makanya dibuat dan banyak juga DM (direct message) ke Koyu untuk buat pakaiannya,” ungkapnya.
(zul)